Eddybudianto’s Weblog


RENUNGAN ATAS PENGABDIAN KEPADA BANGSA

Latar Perenungan

Rambut memutih, wajah berkerut, cekung dadanya, dan kurus tubuhnya. Perang dan juang kini berlalu, menjelmakan kemakmuran negaranya……. dia terlupakan….!!!

Ditepi jalan duduklah dia….. memainkan kecapi tua…… melagukan derita…. dan lagu juangnya…. selendang sutra…. kau prajurit…. kau pahlawan….. yang tlah dilupakan….. tiada bintang tanda jasa imbalan bakti dan juangnya…..

Salah satu sair lagu yang pernah diciptakan dan dinyanyikan oleh group band asal jawa timur tahun akhir 70-an s/d 80-an.

Yach,…..(dengan desak yang sesak didada). Begitu banyak orangtua kita yang kira-kira menjalani hari tuanya seperti apa yang pernah dinyanyikan itu. Tapi tanpa mengeluh, tidak meminta, tidak pula mencaci seperti para demonstran yang tak pernah tahu apa yang sedang diperjuangkannya, yang terkadang justru menghasut, mengadu domba bahkan membuat cheos negara ini.

Mereka kini sudah terpinggirkan oleh perjalanan jaman. Mereka terlupakan oleh generasi penerus yang sudah luntur semangat nasionalisme, patriotisme, dan daya juangnya kepada nusa dan bangsa tercinta ini.

Tulisan ini hanya sekedar merupakan perenungan bagi seorang putra dari pejuang yang tak pernah lelah terus berjuang, tanpa pamrih untuk negara dan bangsanya. Saya bangga dilahirkan menjadi bagian dari manusia ciptaan Tuhan yang ditakdirkan pernah menentukan pilihannya untuk ikut berjuang merebut kemerdekaan dan mempertahankannya, daripada memilih ikut penjajah dalam gelimangan harta tapi menjadi penghianat bangsanya. Dari sinilah tulisan ini dimulai, semoga kita dapat menarik hikmah dari apa yang akan disampaikan.

Memilih Berjuang, awal perjalanan

Jaman penjajahan Jepang, ketika orang-orang sulit untuk menyekolahkan anaknya, seorang kepala stasiun di kota kecil Slaung Ponorogo bersyukur dapat menyekolahkan anaknya. Kepala keluarga didikan penjajahan belanda itu tahu betul bahwa sekolah adalah jalan yang terbaik untuk memberikan bekal bagi keturunannya. Seperti dirinya dulu dibentuk orangtuanya dan disekolahkan di sekolah belanda yang terletak di kota Madiun. Sampai dia bisa menjadi pegawai jawatan kereta api belanda, sebelum Jepang masuk Indonesia.

Salah satu putranya ketika itu dengan beraninya memutuskan untuk bergabung dengan para gerilyawan, meninggalkan bangku sekolahnya, meninggalkan berbagai kemudahan dari fasilitas orangtuanya yang sebagai pegawai jawatan kereta api. Masuk hutan keluar hutan berjuang melawan penjajah. Dalam usia yang sangat muda(15 tahun), sang pemuda sudah bergabung dengan pejuang lainnya melakukan pengembaraan dari satu tempat ke tempat lain dari Ponorogo ke Pacitan.

Jaman kemerdekaan ketika agresi belanda, sang pemuda sekali lagi ikut berperang langsung melawan Belanda dengan senjata seadanya. Kemudian melawan penghianatan bangsanya sendiri dari PKI (Partai Komunis Indonesia) di Madiun. DI TII di Jawa Barat. RMS di Ambon, dan pergerakan pemberontakan lainnya.

Jaman Kemerdekaan, tahun 60-an. Kembali lagi melawan penghianat bangsanya ketika itu PKI beraksi kembali pada “Gerakan 30 September 1965”.

Kini, ketika dia telah berusia 78 tahun. Dia menyaksikan kembali gejala-gejala bangkitnya penghianatan jilid lanjut dari gerakan komunis di Indonesia. Dalam ketak berdayaan karena usianya telah lanjut, dia masih memilih berjuang dengan caranya sendiri, yaitu memberikan dorongan semangat kepada generasi penerusnya dan bergabung di Legiun Veteran Republik Indonesia, atau Dewan Harian Angkatan 45. Sementara orang lain yang pada saat berjuang dulu memilih bergabung dengan penghianat bangsanya hidup makmur dari usahanya yang tidak halal (korupsi dan manipulasi) sedang menikmati kekayaan bangsanya yang dicurinya.

Dia memilih terus pada jalan yang berliku penuh tantangan untuk mengisi hidupnya dan berbuat sebaik mungkin untuk orang lain. Konsekwensi pilihannya…. dan dia merasa bahagia telah memberikan yang terbaik darinya untuk negara dan bangsanya..

Keprihatinan atas ketidak konsistenan perjuangan

Suatu peristiwa memilukan pernah dialami, ketika tahun 80-an. Tepatnya di lokasi kota Gresik Jawa Timur. Salah seorang mantan pejuang pelaku sejarah peristiwa heroik 10 November di Surabaya dulu. Tepatnya salah satu pelaku sejarah penurunan bendera Belanda yang menggantinya dengan merah putih di puncak gedung hotel tanjung Surabaya. Saat ini dia telah menjadi seorang pengusaha kuli angkut di pelabuhan Gresik. Seorang pejuang yang meskipun buta huruf, tapi terkenal dengan keberaniannya dan kejujurannya. Dia memiliki sebidang tanah yang dibelinya dari pemilik lama dengan surat-surat yang syah. Satu-satunya sebidang tanah dan rumah miliknya tersebut digugat oleh PT Semen Gresik, melalui proses pengadilan selama tiga belas tahun lamanya. Sampai dengan proses kasasi, dia di kalahkan dengan keputusan harus meninggalkan satu-satunya harga tanah dan rumahnya dengan surat-surat yang syah. Salah satu anggota LVRI ini akhirnya dibantu oleh rekan-rekannya sesama Veteran Gresik dan Jawa Timur mengadakan perlawanan mempertahankan harta yang syah.(berita hangat ini pernah disiarkan dimedia masa lokal Jawa Timur maupun nasional).

Keprihatinan sangat dirasakan, ketika itu LVRI Gresik melayangkan surat kepada Presiden Soeharto ( yang juga seorang Veteran ) untuk memohon bantuannya menjadi mediasi atas nama kesetiakawanan sesama Veteran yang intinya ditolak, dengan alasan untuk kepentingan umum. Saya sebagai bagian dari keluarga Veteran sangat merasakan kegetiran itu. Sesama Veteran saja sudah tidak bersedia membantu. Akhirnya perlawanan itu di atasi oleh generasi penerus yaitu pangdam Brawijaya Jawa Timur. Sehingga eksekusi lahan tersebut ditunda selama lima tahun. Kini pelaku sejarah peristiwa tersebut sudah meninggal dunia. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang layak disisi-NYA.Amin.

Ternyata perjuangan yang tidak dipegang teguh akan kalah oleh kepentingan jamannya. Kepentingan pribadi atas nama kepentingan umum. Mungkinkah hujatan yang diterimanya itu atas hasil perbuatannya terhadap sesama pejuang ??? meskipun dia juga Veteran. Masih banyak para pemimpin bangsa ini yang telah melupakan pahlawannya. Mereka lupa kata-kata bijak yang mengatakan bahwa ” Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa-jasa pahlawannya”.

Mereka tidak mau meminta di hormati, tapi kitalah yang harus menyadari terlebih dahulu bahwa mereka harus dihormati sebagaimana mereka telah berjuang untuk kemakmuran bangsanya. Kita percaya bahwa kehidupan ini terdapat dua sisi yang saling berhubungan. Ketika kita menghormati pahlawannya, maka kita juga akan dihormati sebagai orang yang menghargai pahlawannya.

Perjalanan jaman yang panjang sudah 63 tahun sejak proklamasi di kumandangkan. Namun para pejuang belum juga dapat menikmati hasil perjuangannya. Godaan perkembangan jaman telah banyak melunturkan nilai-nilai juang semangat 45 yang pernah membara membakar semangat mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para pejuang yang juga tergoda oleh pengaruh jamannya semakin banyak. Terutama bagi mereka yang pernah berada dilingkaran kekuasaan. Sehingga rekannya sesama pejuangpun dikorbankan hanya untuk mempertahankan eksistensinya di kursi jabatan tersebut.

Sangat menyakitkan pula, masih banyak rekan-rekan Veteran dan keluarganya yang terlupakan, tunjangan veteranpun tidak pernah diperolehnya, sehingga untuk melangsungkan kehidupannya dia harus terus berjuang lebih keras lagi.

Disamping itu masih ditemui berbagai kecurangan pemalsuan dokumen veteran, dimana terdapat orang yang usianya tidak pantas menjadi veteran golongan A, karena ketika jaman perjuangan dulu dia masih berusia 5 tahun…. ironis khan ?? padahal orang yang sangat berhak meneimanya justru tidak pernah menerimanya, karena dia tidak bersedia meminta/mengemis untuk diberi.

Disisi lain, Undang-undang Veteran yang pernah dikeluarkan termasuk Kepres tentang keluarga veteran tidak sepenuhnya dijalankan oleh aparat pemerintahan baik pusat maupun di daerah.

Perjuangan untuk membangun bangsa dan negara Indonesia ternyata harus lebih keras lagi di upayakan. Terpaan tantangan dan hambatan jaman yang telah berubah, membuat kita harus terus mereposisi semangat juang kita. Karena telah terbukti, telah banyak orang yang mengalami kelunturan semangat juang dan nilai-nilai juang 45-nya ketika dihadapkan pada situasi yang harus memilih antara idealisme atau kebutuhan hidup.

Masa Perenungan

Sebentar lagi tanggal 10 November akan tiba. Dimana pada hari itu untuk mengenang para pahlawan yang gugur di medan laga. Atau mengenang betapa Maha Besarnya Allah SWT yang telah memberikan kesempatan bagi para pelaku sejarah yang diberi umur panjang untuk bisa menyaksikan hasil-hasil perjuangannya bersama rekan-rekannya tempo dulu.

Kita mengenang betapa medan perjuangan antar generasi telah berubah jauh. Jika dulu perjuangan itu harus dilakukan dengan pertempuran, peperangan dengan menggunakan senjata yang hanya punya satu formula : ”Hidup atau Mati.” ”Membunuh atau Dibunuh.” tapi saat ini dengan perubahan teknologi yang sangat pesat, berkembangnya ilmu pengetahuan yang sangat luas, dan perubahan sosial budaya yang sangat cepat. Membuat kita harus berjuang dalam medan laga yang sangat berbeda dengan kondisi pada 63 tahun silam.

Renungkan pula betapa peperangan multi dimensi telah berjalan tanpa arah, tanpa batas ruang dan waktu, bahkan tanpa nurani. Bagaimana pertempuran dibidang industri pariwisata, perdagangan uang, sosial budaya, ideologi, dan sebagainya, melalui media electronik dan internet demikian dasyatnya, sehingga kawan dan lawan itu bisa berubah setiap saat diinginkan. Tidak ada batas negara, bangsa dan agama. Tidak pula ada batas hubungan darah, suku, ras, dan bahasa. Tanpa batas-batas.

Keluarga Veteran harusnya telah mereposisikan arah dan medan perjuangan baru untuk dapat tetap menggelorakan semangat juang dan nilai-nilai juang 45 tersebut.

10 November bukan saja hanya untuk dijadikan momentum ceremonial belaka. Namun harus diberi makna yang lebih dalam, bahwa perjuangan tidak akan pernah berhenti. Tantangan jaman yang semakin kompleks membuat kita harus terus menyiapkan diri menghadapinya. Berbuat baik yang semakin banyak dan meluas kepada siapa saja terutama kepada masyarakat dan bangsa Indonesia.

Betapa kita telah memasuki setengah abad sejak merdeka, tapi rasa merdeka bangsa dan rakyat Indonesia masih belum terwujud. Kemiskinan, Kebodohan dan Kelaparan saat ini menjadi target penting bangsa Indonesia. Musuh 3 K tersebut sangat relevan dengan formula untuk perbaikan bangsa ini. Peperangan dan atau pertempuran di medan laga inilah menjadi bagian terpenting untuk membangun bangsa yang besar dan disegani bangsa-bangsa lain di dunia.

Akanlah kita harus mengalami penjajahan dalam bentuk yang lain? Mengapa harus terpuruk kesekian kalinya oleh penjajah ?? pertanyaan seperti ini wajar disampaikan kepada kita. Namun bisakah kita generasi berikutnya dari bangsa yang besar ini menerima beban ini untuk diperjuangkan bagi generasi setelah kita ??? waullahu alam bisawab.

Medan Juang periode 2008

Sebagaimana telah disinggung diatas, bahwa medan laga saat ini berupa Kemiskinan, Kebodohan, dan Kelaparan. Hal inilah yang menjadi sasaran tempur yang harus dihadapi disamping sasaran tempur lainnya dalam kehidupan jaman sekarang.

Medan tempur kemiskinan adalah bagaimana kita ikut membangun peluang-peluang usaha bagi rakyat Indonseia yang dilanda krisis ekonomi yang demikian dasyat. Dibutuhkan karya-karya keatif untuk menghadapi pertempuran di medan ini. Dimana menciptakan lapangankerja bagi rakyat sehingga kemampuan daya belinya tumbuh dan dapat menghidupi keluarganya, selanjutnya mereka dapat menjamin keluarganya agar tidak mengalami kelaparan.

Medan tempur Kebodohan adalah bagaimana kita dapat berperan aktif membangun peluang-peluang memberikan ketrampilan bagi rakyat sehingga mempunyai daya saing dalam skill untuk terjun dikancah usaha. Membangun sentra-sentra pelatihan ketrampilan dalam bentuk pendidikan non formal, pendidikan ketrampilan luar sekolah, dan bentuk kursus-kursus lainnya yang diselenggarakan dengan biaya murah, tentunya berbekal pada semangat juang pengabdian kepada sesama yang membutuhkan. Jika mereka dapat survival minimal memanfaatkan ketrampilannya untuk mendapatkan penghasilan yang akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup keluarganya. Jika mereka menjadi cerdas/ pintar maka mereka tidak lagi menjadi objek bagi orang-orang yang memanfaatkan kebodohannya untuk kepentingan mereka.

Medan tempur Kelaparan adalah bagaimana kita dapat membuka peluang-peluang usaha bagi rakyat, sehingga mereka dapat penghasilannya sendiri tanpa menunggu BLT yang akhirnya mampu memberikan gizi yang cukup bagi keluarganya. Disamping itu kita juga dituntut menyediakan fasilitas kesehatan yang murah dan terjangkau oleh rakyat, sehingga hidup mereka menjadi sehat, kuat untuk berusaha dan akhirnya dapat mempertahankan negara dan bangsa Indonesia tercinta ini.

Penutup

Veteran, adalah satu kata yang bermakna luas. Sanggupkah kita sebagai putra-putrinya meneruskan perjuangan mereka ??? berjuang di medan laga yang sangat jauh berbeda.

Marilah kita mewarisi generasi setelah ini dengan suatu karya monumental yang dapat menjadi kenang-kenangan anak cucu kita kelak.

Berpegang eratlah diantara kita untuk sama-sama berjuang membangun nusa dan bangsa tercinta. Bukan hanya sekedar mempertahankan rasa bangga menjadi putra pejuang. Namun harus diperjuangkan menjadi sesuai yang berguna bagi nusa dan bangsa.


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

apakah kita bisa meneruskan perjuangan para pahlawan tempo dulu ????

Komentar oleh eddybudianto




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: