Eddybudianto’s Weblog


Januari 23, 2009, 7:44 am
Filed under: 1

OASE DI PADANG TANDUS

PENDIDIKAN

Ketika perbaikan system pendidikan sedang gencarnya dilakukan dengan cara membangun parameter kesuksesan penyelenggaraan pendidikan nasional. Seperti mencanangkan standar kelulusan nasional tingkat sekolah menengah, melalui proses Ujian Akhir Nasional. Standar pendidikan tinggipun telah diatur dengan adanya sistim akreditasi Pendidikan Tinggi oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi ( BAN PT ). Muncul reaksi atau dikritisi oleh sebagian kelompok masyarakat yang nampaknya telah mengerti betul bahwa gerakan perbaikan yang telah dilakukan itu sedang menuju titik sukses bagi proses penyelenggaraan pendidikan nasional. Mudah-mudahan datang dari hati yang tulus untuk ikut mendorong suasana kondusif dalam upaya bersama memperbaiki sistim pendidikan nasional .

Disisi lain terdapat penentangan yang didasari oleh perbedaan persepsi di masyarakat tentang segala upaya yang telah dilakukan pemerintah tersebut diatas. Semisal adanya demo tentang penentangan diberlakukannya UAN, dengan berbagai alasan. Standar pendidikan baik tingkat Nasional maupun yang bertaraf International tidak dijadikan acuan untuk mempersiapkan institusi pendidikannya menuju peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan, dengan berbagai alasan pula tentunya. Padahal kita tidak dapat memanaj jika kita tidak bisa mengukurnya. Kegiatan kontra porduktif tersebut mungkin juga telah ditunggangi dengan kepentingan politik tertentu oleh segolongan kelompok tertentu melalui kebijakan “pokoknya tolak segala upaya yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah”

Sementara kondisi penyelenggaraan pendidikan sangat bervariatif antara di kota-kota besar dibanding dengan kota-kota kecil lainnya. Belum lagi antara perkembangan di pulau Jawa dan Sumatra atau sebelah barat Indonesia dengan pulau-pulau di wilayah Indonesia Timur.

Diwujudkannya anggaran pendidikan 20%, adanya Undang-undang Guru dan Dosen, Badan Hukum Pendidikan, dan berbagai perangkat produk hukum lainnya yang menopang penyelenggaraan pendidikan sangat mendorong upaya menuju cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Roda pembangunan akan bergerak dengan akselerasi yang cepat apabila pendidikan bangsa berjalan sesuai dengan kaidahnya. Masyarakat akan menjadi cerdas, dan akan menstimulan terciptanya pertumbuhan ekonomi, serta kuatnya ketahanan bangsa terhadap hambatan tantangan ancaman dan gangguan yang datangnya dari berbagai penjuru angin.

Kenyataan yang terjadi, masih diperlukan gerakan yang sinergi antar berbagai unsur masyarakat dalam membangun sistim pendidikan yang lebih baik. Sangat naif rasanya jika pemerintah sendiri yang berupaya untuk menggerakkan pendidikan di Indonesia, sedangkan dasar disisi lain masyarakat sudah bergerak bahkan dalam beberapa hal pihak masyarakat sudah lebih cepat maju ke depan.

Kesadaran kaum elit baik pemerintahan/eksekutif maupun legislatif akan pentingnya kita mereorientasikan arah pengembangan pendidikan nasional yang secara regional maupun international kita sudah jauh tertinggal. Kita sering menjumpai rekan-rekan ditugas belajarkan keluar negeri, pada akhirnya dia kembali tidak ditempatkan dimana-mana alias di parkir menjadi staf akhli. Atau bagi mereka yang jiwa nasionalismenya tipis, bergegas menerima tawaran dari negara lain untuk bekerja disana, tentunya dengan tawaran yang menarik dari fasilitas yang akan diberikan. Hal ini tidak terlepas dari proses pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang tidak terintegrasi, terkoordinasi dan tidak strategis, sehingga kejadian bahwa kaum cendikia bangsa Indonesia akan menjadi motor penggerak negara lain dalam memajukan bangsa mereka akan menjadi sesuatu yang ironis. Syukurlah, saat ini pemerintah telah menentukan langkah strategis, dimana peningkatan kualitas SDM pendidikan telah dan terus menjadi perhatian utama. Suatu masa nanti kelak kita akan lebih bangga terhadap bangsa sendiri, yang memiliki SDM yang luar biasa. Tanda-tanda itu sudah mulai nampak, ketika adik-adik kita yang mengikuti lomba karya ilmiah ditingkat dunia sudah menjadi unggulan. Bibit itu harus dikawal ketat bagi perkembangannya. semisal perjalanan mereka melangkah kejenjang yang lebih tinggi tidak boleh lagi terhambat oleh karena ketidak mampuan ekonomi orangtua mereka (jadi harus di beri beasiswa), mereka tidak terhambat karena Ujian saringan masuk PT mengalami kesalahan sistem yang mungkin sepele ( mereka perlu diberi pass masuk PT tanpa testing), merekapun tidak boleh terhambat kariernya ketika akan mengadakan penelitian saat mereka sudah mengabdi kepada masyarakat. ( mereka harus dibantu mempermudah biaya risetnya) dan sebagainya.

Perlu juga mereka diberi wadah komunitas peneliti muda yang secara berkesinambungan dibantu pula dari sisi biaya penelitiannya, dsb.

Suatu saat nanti bukan tidak mungkin kita akan menemukan mutiara-mutiara bangsa Indonesia dari berbagai pelosok tanah air yang sangat berpotensi, namun terhambat oleh faktor kemampuan ekonomi keluarga sehingga mereka saat ini tak dapat meneruskan pendidikan yang lebih tinggi. Mutiara-mutiara itu masih bertebaran di seantero Indonesia menunggu kebijakan dari penguasa (eksekutif maupun legislatif) yang peduli terhadap nasib mereka. Bangsa ini tidak akan pernah beranjak naik kepanggung persaingan dunia jika kita masih terkotak-kotak dengan kepentingan sesaat para elitnya.

Setelah perjalanan bangsa yang lebih dari setengah abad ini, kita baru merasakan betapa dunia pendidikan terutama para pendidiknya belum mendapat perhatian cukup. Kini payung untuk melindungi mereka sudah dibuatkan yaitu Undang-undang Guru dan Dosen, apalagi keputusan DPR/MPR menuju “anggaran pendidikan 20%.” telah digulirkan. Maka kompetisi menuju Indonesia baru yang berkeadilan, sejahtera, dan makmur menjadi suatu keniscahyaan. Mari kita berlomba membangun bangsa dan negara Indonesia dengan kemampuan masing-masing yang saling bersinergi. Tahun ini adalah tahun awal penentuan bangsa Indonesia menuju Indonesia Baru yang lebih baik, atau …? jika kita salah memilih, maka bangsa Indonesia akan menghadapi masa-masa sulit, dan pasti mengalami kesulitan untuk bangkit sebagai bangsa yang terhormat diantara bangsa-bangsa lain di-dunia. Kita sudah menemukan Oase di pendidikan, tapi perjalanan harus dilanjutkan, menuju Indonesia Baru yang beradab, bermartabat, berjaya, merdeka selama-lamanya.

Kita sebagai rakyat Indonesia hanya diberi waktu tidak lebih dari satu hari untuk sesuatu yang menentukan perjalanan bangsa dan negara Inodnesia tercinta ini dalam lima tahun ke depan dengan cara memilih  calon wakil-wakilnya di Legislatif, kemudian juga menentukan siapa yang diberi kepercayaan untuk memimpin negri ini untuk lima tahun kedepan kelak. Pendidikan politik masyarakat sedang berproses, mereka dihadapkan kepada pilihan yang banyak dan menyulitkan, tapi juga menggoda prinsip dan idealismenya masing-masing, apakah bersedia menerima Rp 20.000,- saat ini untuk memilih sang calon, namun kelak mereka akan dirampok  Rp. 20 miliar oleh sang calon (orang yang dipercaya tersebut) ??? dengan  cara korupsi, kolusi dan nepotisme. Oase pendidikan itu berupa harapan baru untuk kemajuan dunia pendidikan bangsa kita. semua harus belajar, belajar dari alam semesta, belajar dari upaya perubahan, belajar mempercepat akselerasi pengembangan kualitas hidup, belajar dari petunjuk Ruhan Yang Maha Esa.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: