Eddybudianto’s Weblog


MEMBEDAH DIRGANTARA INDONESIA
Juli 4, 2008, 4:14 am
Filed under: Pandangan

Latar peristiwa.

Mengamati perkembangan perusahaan industri pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia terdapat beberapa hal yang menarik untuk dijadikan pelajaran, dan akan bisa menjadi preseden bagi pengambilan kebijakan pemerintah dikemudian hari. Dimana setelah dua puluh tujuh tahun berjalan, industri pesawat satu-satunya yang dimiliki bangsa Indonesia ini menjadi bahan perhatian serius dan hampir saja menjadi monumen abadi bangsa Indonesia, yang pernah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia mulai dari merancang, membuat dan menerbangkan pesawat terbang hasil karyanya sendiri, namun belum sempat bisa dijual, karena terhambat oleh kesiapan dan kesanggupan para pihak terkait yang tidak bersinergi, bahkan akhirnya saling meniadakan peran antar mereka sendiri.

Saat ini, PT Dirgantara Indonesia sedang berada dipersimpangan jalan dan harus menyusun kembali grand starteginya untuk bisa bertahan hidup, mandiri dan kemudian tumbuh ditengah-tengah industri sejenis baik dilingkungan regional, bahkan lingkungan internasional. Upaya ini akan kembali kandas jika berbagai pihak yang sangat bertanggungjawab terhadap langkah kedepannya itu tak lagi secara serius membahas hal ini dalam rangkaian integral proses pembangunan bangsa Indonesia, mengingat industri pesawat terbang diberbagai belahan dunia tidak terlepas dari peranan pemerintah negaranya.

Lingkungan eksternal perusahaan yang demikian kompleksnya, serupa dengan kompleksitas perusahaan yang berkarakteristik teknologi tinggi, padat modal, dengan persyaratan kualitas yang sangat ketat, termasuk memerlukan SDM dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sepadan dengan karakter utamanya. Kompleksitas itu tentunya harus ditangani secara khusus yang melibatkan berbagai unsur terkait, yang pada gilirannya akan bersinergi bagi kepentingan nasional. Hal ini tercermin dari misi yang dipikulnya antara lain menjadi wahana transformasi penguasaan teknologi transportasi udara khususnya pesawat terbang dan sebagai pendorong bagi industri nasional lainnya.

Perjalanan panjang selama dua puluh tujuh tahun telah menghasilkan berbagai produk dan jasa seperti assembling pesawat terbang CN235 sebanyak 37 unit, NC212 sebanyak 112 unit, Helikopter NBO-105 sebanyak 112 unit, NAS-332 22 unit, NBELL-412 sebanyak 26 unit, Roket FFAR 2,75 sebanyak 40.339 unit, SUT TORPEDO sebanyak 152 unit, berbagai komponen pesawat terbang F16, Boeing 737, 767, modifikasi pesawat terbang Herkules C 130(L-100), pengembangan pesawat terbang dan sistem-sistem (MPA=Maritim Patrol Aircraft, Troop Transport, Medivac, Paratrooping, LAPES, Cargo Logistic Transport, Cargo Dropping, SAR, dll). (Data diambil tahun 2001).

Hal ini bisa dijadikan gambaran betapa gerakan perkembangan perusahaan ini telah membuat dampak gelombang yang mendorong pertumbuhan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin cepat, tepat dan berdaya guna tinggi. Dimana kita bisa lihat tumbuhnya sekolah-sekolah penerbangan; sekolah teknologi penerbangan baik tingkat SMK maupun Akademi, bahkan sampai tingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Armada operator penerbanganpun berkembang pesat, dan industri pendukung dari produk-produk penerbangan bertambah, serta usaha-usaha lain baik langsung maupun tak langsung yang terkait dengan dunia penerbangan berkembang karena adanya industri pesawat terbang ini.

Dalam perkembangannya menuju kemandirian bangsa dibidang industri pesawat inilah; tantangan , hambatan, dan rintangan datang secara bertubi-tubi, memaksa untuk merevisi secara total kebijakan-kebijakan jangka jauh kedepan. Revisi strategis perusahaan itu akhirnya berdampak pada restrukturisasi menyeluruh. Hal ini didorong pula oleh kondisi dan situasi negara Indonesia sejak tahun 1997 sampai saat ini, dimana perhatian pemegang saham terhadap industri ini semakin melemah dan berkurang. Ditambah dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak dikaji secara komprehensip dan mendalam pada jangka waktu dua-tiga tahun terakhir dan membuat permasalahan semakin rumit. Apalagi jika kita tinjau dari adanya berbagai kepentingan pihak luar yang menginginkan supremasi dunianya tidak diganggu dengan keberadaan industri pesawat terbang dilingkungan Asia Pasifik. Sehingga tidak mengherankan jika kita bangsa Indonesia mengalami terpaan dari berbagai sisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Cikal bakal modal bangsa untuk tumbuh dan berkembang dalam era teknologi tinggi itu kini semakin terjerembab pada pola pikir liberalisme sempit, dimana tercermin pada pemikiran dan pola tindak seorang menteri ( Laksamana Sukardi) yang punya kewenangan mengendalikan Badan Usaha Milik Negara yang melontarkan pernyataan dengan intinya bahwa “jika kita punya uang! Cukup kuasai teknologi cara pemakaian produk teknologi tinggi-nya saja, daripada membuat atau menciptakan produk dari hasil penguasaan teknologi tinggi tersebut”. Padahal mungkin beliau lupa bahwa bangsa kita harus berjuang keluar dari cengkraman bangsa lain yang pada dasarnya punya semangat menjajah. Oleh sebab itu menguasai teknologi tinggi meskipun dengan konsekuensi membutuhkan biaya yang cukup besar merupakan suatu keniscayaan. Ironisnya beliau merupakan salah satu alumni (bahkan kini menjabat ketua ikatan alumni perguruan tinggi tersebut) yang punya kepentingan untuk menjadi pionir penguasaan teknologi di negara Indonesia ini.

Kembali kepada tingkat kepedulian pemerintah terhadap nasib industri pesawat terbang satu-satunya milik bangsa Indonesia ini (yang sedang sekarat), dan memerlukan perawatan intensif dari pemerintah, harus dipertimbangkan pula perihal dampak ikutannya jika keputusan yang akan diambil pemerintah itu berkaitan dengan sumber daya manusia-nya yang kini dimiliki dan sebagai asset industri pesawat terbang Indonesia tersebut. Sedangkan pembinaan dan pembentukan kompetensi personil karyawannya ini telah mengeluarkan daya upaya yang signifikan baik berupa waktu maupun biaya yang cukup besar.

Sangat disayangkan jika kompetensi yang cukup besar ini akhirnya diabaikan dari pertimbangan dalam langkah merestrukturisasi perusahaan secara menyeluruh. Bagaimana nasibnya personil yang selama puluhan tahun mengabdi dan berpartisipasi aktif dalam membangun citra bangsa didunia penerbangan khsusnya industri pesawat terbang dan produk-produk ikutan lainnya (spin off technology) ini. Apakah mereka akan diabaikan begitu saja ?!!, sebagaimana halnya yang pernah terjadi dengan pekerja-pekerja industri lainnya yang mengalami hal sama (PHK sepihak) sebelum peristiwa ini terjadi !!! padahal mereka adalah orang-orang yang handal dan dapat dikatakan orang yang memiliki kompetensi langka, namun karena beban pekerjaan bagi mereka berkurang bahkan sebagian tidak ada lagi, maka mereka harus menanggung semua ini begitu saja ?! tanpa perhatian yang serius dari pemerintah !!! alangkah sangat naifnya jika hal ini tidak menjadi perhatian serius.

Bukan tidak mungkin masalah ini akan mendatangkan permasalahan yang sangat serius dikemudian hari bagi bangsa dan negara kita. Terlepas apakah pejabat pemerintahan itu dari golongan atau parpol manapun, namun aset bangsa yang punya nilai strategis ini jika diabaikan, akan mendatangkan permasalahan kompleks bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Siapapun tokohnya, darimanapun golongan atau parpolnya, jika mengabaikan hal ini akan menghantarkan malapetaka bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Kepentingan bangsa dan negara haruslah dijadikan perhatian utama, mengingat tanggungjawab mengisi kemerdekaan ini adalah tanggungjawab kita bersama. Bayangkan jika tenaga-tenaga potensial bangsa ini akhirnya hanya sebagai pekerja bahkan budak dari kebengisan imperialisme baru dengan baju sebagai penanam modal asing. Dimana jika sumber alam sudah terkuras habis, mereka pergi begitu saja dengan memboyong keuntungan yang berlimpah ruah. Sementara bangsa kita kembali sebagai pemakai, pembeli, pekerja dan jajahan bangsa lain dengan bentuk baru.

Bayangkan jika sumber daya manusia yang tinggi kompetensinya sudah terasuki bisikan syetan, sehingga akhirnya menjadi kelompok yang merasa tertindas dinegerinya sendiri, kemudian menjadi kelompok oposan tak terkendali, lalu merongrong bangsanya sendiri dengan membuat gerakan-gerakan yang sangat merugikan perikehidupan bangsanya sendiri. Apalagi jika mereka dimanfaatkan pihak lain (negara lain) yang mempunyai kepentingan untuk menguasai sumber daya bangsa kita yang katanya melimpah ruah ini ? dengan cara memberikan dukungan biaya tak terbatas untuk membuat suasana menjadi instabilitas. Betapa ruginya bangsa kita jika tenaga-tenaga yang punya keakhlian ini dengan mudah dimanfaatkan bangsa lain dengan imbalan uang yang menggiurkan, akhirnya digunakan untuk menghancurkan bangsanya sendiri. Betapa tak berdayanya kita jika uang sudah menjadi andalan bagi pola kehidupan bangsa Indonesia, sehingga pertimbangan untuk membela tanah air sudah dinomor tigakan. Betapa ironisnya bangsa kita jika ukuran-ukuran materialistis sudah menjadi standar hidup, bukan lagi nilai-nilai luhur dan budaya bangsa yang telah diwariskan dari pendahulu kita yang dijadikan pegangannya.

Betapa sayangnya jika potensi dari tenaga-tenaga akhli ini diabaikan begitu saja. Sekian ribu orang yang punya potensi terabaikan oleh pemerintah yang tidak mengkajinya secara komprehensip. Apalagi sampai tidak memberikan bantuan moril maupun materiil yang memadai bagi mereka untuk menyiapkan diri bersurvival, bahkan dapat membangun peluang-peluang lapangan kerja baru yang signifikan bagi masyarakat sekitarnya.

Padahal tenaga-tenaga akhli karyawan PT Dirgantara Indonesia ini telah dan sudah mampu melakukan berbagai rancang bangun antara lain mampu melaksanakan pengembangan teknologi pesawat bermesin Jet (N2130), desain pesawat terbang fly by wire, pengembangan sistem-sistem ; ASW (Anti Submarine Warefare), AEW (Airborne Early Warning), ASV (Anti Surface Vessel), SIGINT (Signal Intellegent, SAR (Search and Rescue), C3 (Command Control & Communication), LADS (Laser Airborne Depth Sounding), Pollution detection, Radar Mapping, Optical Mapping, Aircraft modification, Engineering design, System Integration Services, measurement and Calibration of the electronic systems/instrumentation, structure test, dan berbagai pengembangan kemampuan non core lainnya. Bukan tidak mungkin mereka akan menjadi stimulan bagi percepatan pemulihan kondisi ekonomi bangsa Indonesia dikemudian hari karena membangun ketahanan ekonomi bangsa.

Jadi kesempatan membangun dunia usaha baru dapat dikembangkan sejalan dengan adanya pemberdayaan tenaga-tenaga akhli yang dihasilkan oleh Industri Pesawat Terbang PT Dirgantara Indonesia yang bergerak diberbagai bidang baik terkait langsung dengan indsutri pesawat terbang maupun spin off technology-nya yang sangat luas.

Betapa ironisnya karyawan industri pesawat terbang di negeri ini yang sejak berdiri-nya di tahun 1976 hingga kini belum merasakan kesejahteraan yang layak karena terlanjur berangkat dari idealisme padamu negeri kami berbakti. Telah banyak terjadi mereka yang disia-siakan karena kelompok orang yang ditugaskan pemerintah sebagai pengendali perusahaan bertindak memanfaatkan semangat padamu negeri kami berbakti dari karyawannya untuk bertindak sesuka hati menentukan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada kesejahteraan karyawan. Dengan alasan yang klise bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan.

Jika dibandingkan dengan industri pesawat terbang lainnya di berbagai belahan dunia, maka standar gajinya belum mencapai tingkat yang minimum sekalipun. Namun karyawannya sekali lagi tak pernah mempersoalkan secara serius mengenai permasalahan kesejahteraan itu, mengingat modal semangat padamu negeri kami berbakti itu selalu menjadi penghibur hati. Padahal sejak awal berdirinya perusahaan itu, pemerintah (terlepas siapa atau dari golongan mana dia yang berperan sebagai pemerintah saat itu) selaku pemegang saham telah mencanangkan visi dan misi perusahaan ini sebagai institusi yang diberi tugas untuk penguasaan alih teknologi bagi bangsa Indonesia. Konsekuensinya ukuran-ukuran kinerja bisnis harus dinomor-duakan dan kebutuhan-kebutuhan dana sebagian harus ditanggulangi pemerintah. Namun hanya pada waktu terakhir ini tiba-tiba pemerintah mengarahkan misi perusahaan ini menjadi suatu entity yang berorientasi bisnis, sehingga semua ukuran kinerjanyapun dipandang sama dengan perusahaan yang sejak kelahirannya sudah berorientasi bisnis. Dimanakah keadilan itu ?? Sedangkan sejak berdirinya hingga saat ini Visi dan Misi yang ditentukan masih belum berubah secara menyeluruh. Jika akhir-akhir ini para pihak mengukur dan menilai dengan alat ukur berbeda bahkan cara mengukur dan observasinya pun dari sudut pandang yang berbeda pula, sehingga dapat diyakini bahwa hasil kesimpulannya pun akan terjadi bias. Celakanya jika sampai hasil kesimpulan itu dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan yang sifatnya strategis. Hal ini akan mempercepat proses pembusukan performansi secara menyeluruh.

Saat ini yang perlu diluruskan adalah cara pemerintah dalam mengambil sikap atau keputusan agar dapat berlaku seadil-adilnya. Mengingat bahwa kondisi perusahaan hingga menjadi seperti sekarang ini tidak terlepas juga dari keputusan-keputusan pemerintah yang mengutamakan misi nasionalnya dibanding dengan kepentingan kelangsungan hidup perusahaan. Jangan sampai mengorbankan kepentingan karyawan yang telah ikut berjuang membesarkan perusahaan, apalagi letak kesalahannya seimbang antara peran direksi sebagai wakil pemegang saham dengan karyawan disisi lainnya. Dimana hubungan industrial itu mutlak harus dibangun dan diciptakan suasana yang harmonis.

Berikut ini kami sampaikan gagasan yang masih dalam tingkat wacana dan dapat dijadikan pertimbangan bagi aparat pemerintahan yang bertanggungjawab dengan urusan ini.

Usulan solusi

Kapabilitas tenaga kerja dari industri pesawat terbang ini telah terbukti di berbagai sektor industri lainnya, dimana kompetensi yang beragam dapat secara cepat diadaptasikan dengan lingkungan setempat, sehingga daya saingnya jelas akan lebih tinggi dari yang lainnya.

Oleh sebab itu solusi dari permasalahan yang terjadi diperusahaan PT Dirgantara Indonesia ini dapat dijadikan sebagai pilot project penanganan ketenagakerjaan di-Indonesia yang melibatkan berbagai sektor dan merupakan kegiatan lintas sektoral, sehingga dapat dijadikan standar untuk mengatasi permasalahan serupa dikemudian hari. Namun gagasan ini dapat diwujudkan hanya jika hubungan lintas sektoral departemental pemerintahan berada dalam satu rel yang sama yaitu membangun peluang-peluang dunia usaha dengan memberikan stimulan-stimulan yang terintegrasi dengan baik, dimana hubungan antar entity atau komponen yang terkait merupakan hubungan tertutup menjadi pusaran penggerak dunia usaha, sehingga riaknya dapat secara beruntun menggerakkan sektor-sektor usaha lainnya tumbuh dan hidup bersama saling mendukung membentuk kekuatan dan daya tahan menghadapi serangan maha dasyat dari negara lain melalui gerakan globalisasi ekonomi yang terus bergerak itu. Adapun Entity yang dapat dilibatkan adalah :

Depnakertrans ;

Dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator dan mediator mengenai ketenagakerjaan dan berbagai hal mengenai pengaturan ketenagakerjaan. Departemen ini menyiapkan bank data dan peta ketenagakerjaan baik secara regional maupun nasional. Bahkan menjembatani terbentuknya asosiasi profesi khusus ketenagakerjaan yang belum tersedia sebelumnya. Disamping itu departemen ini juga menyiapkan jalinan informasi terpadu mengenai kebutuhan riil dari perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja spesifik dengan kualitas taraf internasional. Kaitannya dengan karyawan PT Dirgantara Indonesia, diberikan informasi tentang berbagai peluang yang sesuai dengan kometensi yang dimiliki.

Deperindag ;

Bertindak sebagai institusi yang membina industri-industri pemakai tenaga kerja potensial, membina dan membangun plasma-plasma usaha dari berbagai industri yang telah berkembang dan membutuhkan dukungan, sehingga memperkuat daya saing industri yang bersangkutan terhadap industri sejenis dari negara lain. Membuka peluang-peluang pasar baru bagi industri plasma baik didalam maupun luar negeri. Disamping itu departemen ini membangun jaringan yang menghubungkan dan mempermudah birokrasi antara industri-industri plasma dengan pemilik modal atau institusi keuangan/perbankan nasional. Kemudian secara rutin melakukan perbaikan serta membina standar kerja maupun standar industri-industri, sehingga industri tersebut dapat secara terus-menerus mengikuti perkembangan pasar baik nasional maupun internasional.

BPPT ;

Disamping pembinaan pengembangan teknologi, institusi ini juga sebaiknya lebih difungsikan sebagai pusat jaringan informasi perkembangan hasil riset bagi berbagai industri yang aplikan untuk menghadapi perkembangan yang sangat pesat dari kemajuan temuan-temuan berteknologi tinggi dunia, sehingga pembaharuan dan pencerahan hasil-hasil produk terus dibuat untuk meningkatkan daya saing industri utama maupun industri plasmanya. Dengan pengertian bahwa biaya riset yang tinggi namun menghasilkan nilai tambah yang strategis bagi bangsa dan negara maupun industri bersangkutan haruslah ditanggulangi oleh negara melalui institusi BPPT ini. Sehingga beban biaya litbang bagi industri yang bersangkutan dapat ditekan sedemikian rupa dan dapat meningkatkan daya saingnya. Dalam kaitan ini BPPT dapat memberdayakan tenaga-tenaga akhli karyawan PT Dirgantara Indonesia dengan memberikan proyek-proyek penelitian yang bersifat strategis tadi untuk dikerjakan, dan hak karya intelektualnya dapat dikuasai oleh BPPT sebagai pemberi kerja. Bagi industri utama maupun plasmanya akan ditugaskan memproduksi secara masal dan dipasarkan oleh bantuan Deperindag melalui insentif-insentif tertentu.

DEPHANKAM / TNI-POLRI

Departemen ini bertindak sebagai pemakai, sekaligus penjamin untuk poduk-produk militer yang dihasilkan industri plasma dan secara rutin memberikan bimbingan teknis maupun masukan dari hasil produk yang telah dipakai untuk dilakukan perbaikan. Kaitannya dengan karyawan PT Digantara Indonesia adalah bagi tenaga-tenaga akhli dibidangnya khusus untuk industri senjata dan militer, diberi kesempatan bergabung di-Industri plasma yang memproduksi perlengkapan militer khusus, baik pada sektor engineering riset, produksi, administrasi tehnik, maupun lainnya. Apalagi sebagian sahamnya juga dimiliki oleh Dephankam/TNI-POLRI dan hak karya intelektualnya dari hasil riset maupun pengembangan produknya tetap dimiliki oleh Dephankam yang telah membiayai riset atau penelitian tersebut.

Kementrian P-BUMN

Sebagai institusi yang membina secara langsung terhadap PT Dirgantara Indonesia ini seharusnya mempunyai perhatian besar dan secara intens mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi berbagai perkembangan yang terjadi. Peranan kementrian P-BUMN saat ini menjembatani karyawan PT Dirgantara Indonesia dengan pihak manajemen dan semua fungsi terkait dengan PT Dirgantara Indonesia. Menciptakan suasana dan arah pencapaian solusi permasalahan yang win-win solution, sehingga terwujud situasi dan kondisi yang kondusif. Disamping itu kementrian BUMN dapat membangun unit-unit usaha plasma yang berada di area hulu suatu jalur rangkaian industri dan atau diarea hilirnya, sehingga meningkatkan kemampuan dukungan kandungan lokal (local contens) dan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar negeri, sekaligus meningkatkan daya tahan industri secara nasional.


Lanjutan tulisan…………………….( Januari 2009 )

Keterkaitan antar lembaga/institusi dilingkungan pemerintahan maupun non pemerintah saat ini nampaknya belum menggambarkan soliditas pengendalian pemerintah atas kepentingan nasional, sehingga nasib Dirgantara Indonesia sangat mudah dipermainkan oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dalam rangka mengupayakan perkayaan diri sendiri dan kelompoknya ( korupsi yg terstruktur).

Dapat dikatakan sekarang bahwa Dirgantara Indonesia dalam kondisi sekarat bahkan hampir mati suri. Betapa indikator ketahanan suatu industri sudah nampak jelas sangat rapuh. Kita bisa lihat saja usia mesin-mesin produksi rata-rata diatas 20 tahunan, ditambah dengan up-grading skill tenaga kerja yang rasionya sangat kecil dibanding jumlah personil pertahun.( dibawah 5% jumlah tenaga kerja yang di up-grade skillnya pertahun), bahkan jumlah tenaga kerja yang mempunyai sertifikasi keahlian sebagaimana yang disyaratkan untuk suatu industri teknologi tinggi sangat kurang. jika lebih menyeluruh, apakah production certification yang dipersyaratkan untuk suatu industri pesawat telah diperbaharui ?? bila belum, maka sederet kendala pengelolaan industri ini akan semakin bertambah.

Kondisi ini semakin diperparah lagi oleh rendahnya temuan hasil riset untuk produk-produk baru yang merupakan suatu prasyarat kekuatan daya saing di lingkungan industri teknologi tinggi tersebut. Apakah Dirgantara Indonesia sudah mempunyai terobosan baru dengan menciptakan produk unggulan baru sebagai langkah mengupayakan kekuatan daya saing industrinya. nampaknya hal ini tak dapat dijadikan harapan untuk membangun daya saingnya, belum lagi tingkat kepercayaan masyarakat international terhadap eksistensi industri pesawat satu-satunya di Indonesia ini telah berkurang drastis. dimana sampai saat ini kontrak-kontrak kerja baru tidak ada yang signifikan dapat menjadi kontribusi bagi penambah kekuatan daya saing perusahaan. Disisi lain hubungan industrial antara pekerja dengan pimpinan perusahaan tak dapat disebut bersinergi untuk meningkatkan produktivitas kerja, bahkan struktur organisasi perusahaan bukan semakin ramping namun bahkan semakin menggelembung, dengan komposisi struktural yang lebih banyak dilevel menengah keatas.

Tenaga kerja yang berlisensi international pun kini mayoritas sudah mengundurkan diri, dan yang tinggal hanya mereka yang memang kurang mempunyai wawasan dan keberanian untuk mengupayakan pengembangan dirinya. Disamping terjadinya demotivasi yang lebih kuat lagi, ketika dikeluarkan peraturan baru tentang Dana Pensiun yang akan dikenakan potongan diatas 10% ketika karyawan menerima secara lungsum, saat mereka pensiun. ironis sekali nasib karyawan yang telah mengabdi berpuluh-puluh tahun dengan dedikasi yang demikian besarnya akhir pengabdiannya memprihatinkan.

Jika kita membuat prediksi jangka menengah, ketika kepedulian terhadap keberadaan industri dirgantara ini sangat rendah, maka kondisi itu dapat kita gambarkan sebagai berikut ;

Order / pesanan pemerintah dikurangi karena keterbatasan pendanaan, dan mendesaknya kebutuhan rekondisi alut TNI / Hankam yang menuntut segera diatasi, karena usia peralatan mereka sudah rata-rata diatas 25 tahun. oleh sebab itu harus segera mengambil langkah memesan pada industri Hankam di negara lain. Hal ini berarti mengurangi perkiraan pendapatan yang sifatnya captive, sehingga akan berdampak langsung terhadap akselerasi perbaikan kondisi perusahaan, bahkan mungkin akan mengurangi pemasukan perusahaan secara langsung dari order-order yang sifatnya captive.  dapat kita duga akhirnya kekuatan perusahaan akan semakin lemah dan mudah-mudahan tidak semakin terpuruk.

ciri-khas perusahaan yang padat modal dan padat teknologi seperti ini, adalah ketika investasi, inovasi, dan inisiatif dalam membuat terobosan-terobosan  intensitasnya menurun dibandingkan pergerakan pesaingnya, maka  posisi usahanya akan mencapai titik nadir, akhirnya menunggu belas kasihan untuk di rawat inap.

( bersambung …… )


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: