Eddybudianto’s Weblog


KESELAMATAN DIRI MELALUI TIGA POROS UTAMA
Juni 27, 2008, 1:06 am
Filed under: Pandangan | Tag:

Makhluk hidup di dunia ini saling terhubungkan satu dengan lainnya, bagaikan rangkaian sel-sel atom. Demikian pula dalam struktur tubuh manusia sebagai bagian dari mahkluk hidup yang ditakdirkan Tuhan untuk menjalani proses hidupnya. hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan flora, manusia dengan fauna, manusia dengan alam jagad raya, dan manusia dengan Tuhannya.

Ketika proses hidup manusia tersebut sedang berjalan, maka simpul-simpul dalam tubuh manusia itu sendiri melakukan aktivitas rangkaian jaringannya. Jaringan tersebut semakin rumit ketika diurai sampai dengan sel-sel tubuh yang terkecil. Namun saat ini kita hanya meninjau dari jaringan besar dalam tubuh manusia yang menggerakkan seluruh organ untuk beraktivitas.

Terdapat tiga poros utama, atau entiti penting yang menjadi pusat aktivitas itu, antara lain poros qolbu, otak dan otot. Ketiga poros tersebut saling berhubungan erat dan saling pengaruh mempengaruhi. Berawal dari Qolbu ketika kita diberi stimulan kejadian yang berkaitan dengan pertimbangan rasa, lalu kontak ke otak untuk memberi pertimbangan rasio dan kontak ke otot untuk pertimbangan raga. Respons diri dari sang manusia tersebut terjadi ketika terdapat sinkronisasi hasil pertimbangan dari ketiga poros tersebut.

Pertimbangan rasa dari qolbu seharusnya menjadi sandaran utama untuk semua interaksi tersebut, karena bekal dari kearifan manusia berasal darinya. Qolbu sangat erat hubungannya dengan bimbingan Ilahiyah, mengingat norma-norma hidup dan kehidupan semua datang dari-NYA, sehingga ketika manusia akan melakukan tindakan atau gerakan raga, maka tidak terlepas dari ketentuan-ketentuan hidup dan kehidupan dirinya yang menjadi pembatas utama terhadap norma-norma pergaulan antara manusia yang disebut ber masyarakat, yang tentunya bertujuan untuk keselamatan dirinya. coba kita refleksikan ini dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tindakan kita tanpa mempertimbangkan masukan dari Qolbu, maka hal yang terjadi adalah tindakan tanpa batas, tanpa arah dan tanpa kendali. Sehingga sering orang seperti ini disebut Sadis, Bengis, Radikalis, tidak beradab, dsb-nya.

Pertimbangan akal dari otak, setidaknya akan menjadikan manusia rasional dalam bertindak. Dia akan menjadi penting ketika dalam melakukan aktivitasnya manusia membutuhkan ilmu, yang nota bene menjadi bahan konsumsi utama dari otak. Bagaimana jadinya jika manusia bertindak tanpa ilmu, tentu korban utamanya adalah otot, dan Qolbu. Dimana otot akan melakukan aktivitas yang ekstra keras dan Qolbu menerima beban beratnya.

Pertimbangan raga dari otot, terkait dengan kapasitas dan kapabilitasnya untuk melaksanakan perintah otak dan Qolbu secara simultan. Bagaimana kiranya jika raga manusia sangat lemah, maka perintah Qolbu maupun Otak tak dapat dilaksanakan dengan baik atau bahkan tak berfungsi, sehingga sinkrnisasi tindakan tidak dapat berjalan dengan baik.

Selanjutnya bagaimana jika kita akan mencapai hasil yang optimal dalam proses hidup dan kehidupan ini ? tentunya melakukan manajemen QOTAK. Yaitu mensinkronkan antara Qolbu, OTot, dan otAK.

sinkronisasi QOTAK tak semudah dibayangkan orang, sebagaimana ada orang yang mencetuskan ide manajemen QOlbu ?? namun bagaimana dengan manajemen OTot dan manajemen otAK – nya ??. tiga sumbu ini akan menjadi satu kesatuan untuk melaksanakan manajemen QOTAK tersebut.

Parameter yang menjadi andalan pengukuran masing-masing kuadran dapat di ikuti pada tulisan berikut ini.

Keseimbangan QOTAK.

kestabilan diri adalah pencapaian keseimbangan antara peran Qolbu, Otot, dan Otak. Ketika Otak berfikir akan melakukan sesuatu berdasarkan landasan ilmu yang ada padanya, maka saat itu pula peran Qolbu menjadi penyeimbang tindakan yang akan dilakukan. Dasar pertimbangan dari Qolbu adalah pengalaman diri atas hubungannya dengan berbagai dimensi. Dimensi utamanya tentu terhadap Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Kuasa, baik disadari maupun tidak fitrah manusia itu sendiri pasti berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Seorang yang atheis sekalipun pasti mencari sandaran sesuatu yang spesifik dan tak bisa didefinisikannya sendiri. Dimensi berikutnya dari Qolbu selain kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itu adalah hasil olah rasanya terhadap alam sekitar dirinya, disamping perbendaharaan lainnya dari Qolbu. Kemudian pertimbangan dari Otot mulai merespon perintah tersebut untuk dilaksanakan. Dasar pertimbangan otot ini tentunya condong pada hal-hal yang sifatnya phisikal. Utamanya yang berkaitan dengan capability dan capacity organ otot untuk melaksanakan perintah tersebut.

suatu contoh sederhana untuk mensimulasikan keseimbangan itu dapat digambarkan sebagai berikut ; seorang pengembara berniat akan melakukan perjalanan keliling dunia (pertimbangan pertama dari Qolbu), namun dia berfikir (pertimbangan Otak) bahwa dirinya perlu pengetahuan tentang tempat-tempat yang akan ditujunya, pengetahuan tentang prosedur perjalanan, dlsb. disamping itu ototnya (pertimbangan raga) merespon dengan kemampuannya untuk menunjang maksud tersebut, misalnya ada beberapa fungsi tubuhnya tidak berperan dengan baik karena cacad. tentunya niat tersebut mengalami tantangan dan bisa jadi niat tersebut mengalami penundaan bahkan batal terlaksana. Oleh sebab itu keseimbangan antara ketiga poros tersebut bisa dicapai, ketika masing-masing poros saling mendukung/melengkapi, atau saling mengeliminir, atau saling mengisi kekurangan yang ada. ( bersambung……. )


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: