Eddybudianto’s Weblog


LINTASAN KASIH DI – AMBOINA
Juni 10, 2008, 2:37 am
Filed under: Pandangan | Tag:

Pagi yang dingin diselimuti kabut tebal. Daun-daun basah dan memantulkan pernik-pernik sinar lampu jalan dari tetesan air yang menggenang dipermukaan-nya. Suara jengkrik bersautan dengan suara kodok. Betapa indahnya suasana hening seperti ini.

Dyto melangkah perlahan menyusuri jalan yang basah, menghayati perjalanannya, menelusuri jejak-jejak dulu. Jalan yang selalu dilewatinya, seperti tak pernah ada perubahan. Tenang, damai, sepi, meski deretan pohon mahoni semakin rindang dan memayungi jalan itu, tapi dia tahu persis tidak ada yang berubah disana. Rumah-rumah yang berjejer rapih ditepi jalan itu, masih seperti dulu, bentuknya yang besar dan hampir seragam namun menunjukkan kesahajaan.

Dia hapal betul situasi seperti ini. Rumah yang akan dituju sudah dekat, kira-kira dua blok lagi, tepatnya satu rumah sebelum ditikungan jalan itu. Pepohonan buah mangga, bunga-bunga mawar, melati, bahkan bougenville, telah nampak dari kejauhan. Disana banyak kenangan yang telah diukirnya. Disana dia pernah ikut menanam salah satu pohon yang tumbuh subur. Disana dia pernah mendapatkan nilai-nilai persahabatan yang tulus, disana dia pernah merasa kehilangan, dari sana pula dia mengukir perjalanan hidupnya seperti sekarang ini. Meskipun orangtuanya cukup kaya dikota ini, mobil tersedia, motor tersedia, namun dia memilih berjalan kaki saja. Dia ingin menikmati masa-masa lalu yang tak bisa kembali, dia ingin merasakannya, sekali saja.

Tak terasa kepergiannya sudah mencapai empat tahun lamanya, selama itu dia hanya mendapatkan cerita-cerita yang disampaikan adiknya, atau dari teman-teman yang setia menghibur, atau surat-surat dari sahabatnya yang menceritakan segala sesuatu yang bisa dilihat oleh mereka.

Hari ini, yeah… hari ini dia ingin membuktikan sendiri bagaimana cerita-cerita yang selama ini disampaikan kepadanya. Dipilihnya waktu subuh setelah sholat di masjid Al Fatah, masjid kebanggaan masyarakat muslim di kota Amboina ini. Dari rumah itu pula dia banyak diperkenalkan dengan kehidupan religius, berupa kegiatan-kegiatan di-masjid, atau kegiatan islami lainnya. Namun dari rumah itu pula dia pernah membawa hati yang hancur luluh.

Sekarang ingin dia buktikan sendiri apa yang telah disampaikan kepadanya.

Bahwa Rosda selalu menyiram bunga-bunga di halaman pada subuh hari, lalu berlama-lama memandang halaman yang penuh pepohonan sambil duduk diteras rumah, kadang bercanda dengan bocah kecil yang berlarian sambil sesekali berteriak. Benarkah Rosda sering menyendiri, benarkah dia sudah menarik diri dari pergaulan dengan teman-teman dulu, benarkah pancaran kecantikannya telah berkurang, tidak seperti dulu lagi ceria, periang, murah senyum dan desahan tawa yang renyah. Jika semua itu benar adanya, betapa dahsyatnya goncangan jiwa akibat peristiwa yang pernah dialami, betapa dalamnya membekas pada hari-hari yang dilalui.

Tanpa terasa langkah Dyto terhenti didekat batang pohon mahoni yang besar dipinggir jalan seberang rumah Rosda. Dia tertegun dengan pemandangan yang dilihatnya. Sepagi ini, dimana lembayung masih jauh diujung pegunungan sana, suara kicauan burung masih belum ramai, hanya sesekali sahutan ayam yang berkokok dikejauhan. Benarkah dia ?….. gadis yang pernah mengukir kisah sejarah dalam perjalanan hidupnya !!

Gadis dengan tubuh tinggi semampai, kulit kuning langsat, rambut tergerai panjang sebatas pinggang, raut wajah tirus lembut hampir sempurna simetris, alis mata tebal memanjang melindungi bulu mata yang lentik. Duduk diam seribu-basa dikursi teras rumah dengan lampu yang temaram, memandang kosong lurus ke-taman dihalaman rumahnya. Terasa goresan sembilu meresat dihati Dyto bagaikan sambaran kilat, perih pedih. Pemandangan yang tak sanggup diteruskannya, namun dia ingin membuktikan lebih jauh lagi tentang semua yang pernah didengarnya. Sambil bersenderan dibatang pohon Mahoni, kaki kirinya diangkat bertopang pada pohon mahoni dia menghirup udara segar pagi subuh itu dengan beratnya. Inikah kenyataan yang dialaminya ??? inikah perjalanan yang harus ditempuh, lalu dibiarkan berlalu begitu saja ???. betapa nestapa yang panjang telah menerpanya tanpa dapat dihindari. Dia masih seperti dulu, cantik. Namun benar adanya pancaran keceriaan gadis remaja sudah berkurang. Dari kejauhan Dyto merasakan kemuraman itu. Haruskah aku melangkahkan kakiku untuk menujunya ??? dan memeluk erat membagi duka nestapa, membagi perih derita yang dialaminya, sedangkan aku telah berjanji untuk melupakan semua itu ??? demikian jerit pilu dihati Dyto.

Rosda merasakan hari ini ada sesuatu yang lain, suasana yang pernah dirasakan lima- enam tahun lalu. Pagi yang nyaman, pagi saat menunggu seseorang dan teman lainnya untuk berolah raga, jalan kaki berkeliling kota Ambon yang sejuk. Pagi yang …..ach. terasa ada penantian , harapan, kecemasan, impian dan………………yeah, kedatangan seseorang yang hampir sekian lamanya tak dapat dihapuskan dalam benak dan kehidupannya. Aneh memang, mungkinkah dia kembali lagi setelah sekian lama dia kecewakan, setelah saat itu terjadi….. setelah ….. Rosda mengusap air matanya yang begitu saja mengalir deras dipipinya. Ya… Alloh, ampunkan hamba ini. Ampunkan kesalahan hamba yang tak dapat dihapus begitu saja. Seperti terhapusnya air mata ini. Entah mengapa tiba-tiba Rosda mengingat sesuatu yang ingin dilupakannya, mengingat tentang seseorang, sedangkan kini dia telah berkeluarga, dan telah lama dirinya menderita karena semua kisah itu.

Dyto tertegun melihat dari jauh di-ujung jalan tempat dia berdiri, bagaimana Rosda berulang kali menyeka pipinya. Bagaikan dentuman meriam menggema didadanya, degupan jantungnya berpacu cepat. Sudah sejauh inikah penderitaan yang ia alami ??? tidak bisakah panjangnya perjalanan waktu yang empat tahun ini merubah segalanya ???? lalu mengapa orang-orang disekelilingnya tidak berdaya untuk mengembalikan keceriaannya. Astagfirullah ……. Apakah dirinya juga merupakan bagian yang mendorong dia menjadi begitu ???!!! Padahal tidak terlintas sedikitpun dalam pikiran Dyto untuk melukainya. Seharusnya!! Dirinya-lah yang bisa menjadi seperti itu, bukan dia, bukan…bukan !!!

Betapa ironisnya hal ini terjadi pada diri-nya dan Rosda, sedangkan kami sama-sama menjadi korban perbuatan orang yang ……… ach, sudahlah.

Disana, di rumah itu, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang anak dengan lincahnya berlari sambil membawa bola kecil berwarna-warni.

“ Mama,…… aya punya bola, nih !!!” teriak sang anak sambil melemparkan bola kearah ibunya yang masih duduk di teras dengan diam yang memprihatinkan, tanpa ekspresi sedikitpun. Rosda memungut bola yang bergulir jatuh menjauhi tempat duduknya dengan gerakan yang lambat, bibirnya tertarik sedikit tanpa senyum.

“ Maa…. Ayo, kita main,yaa…” teriak sang anak lagi. Rosda bereaksi dengan gerakan yang lamban. Dia berdiri dan menghampiri sang anak sambil merentangkan tangannya. Rosda !!! begitukah hari-harimu…??? Dimana sang suami yang membuat kita jadi terpisah seperti ini ??? engkau disana dan aku berdiri terpaku disini tanpa bisa berbuat banyak. Dimana suamimu Rosda ?!, yang dulu dengan segala macam cara telah berbuat aniaya terhadap kita dan teman-teman. Sampai saat ini teman-teman masih saja menyampaikan simpatinya kepada kita, melalui surat-surat yang mereka kirimkan kepadaku, berita penting melalui telpon, atau kiriman kaset rekaman canda mereka seperti dulu pernah kita lakukan. Mereka selalu menceritakan tentang perkembanganmu, apapun yang mereka ketahui selalu sampai padaku yang jauh dirantau. Mulanya aku sangat terhibur dengan berita yang mereka sampaikan, namun apabila kepedihan-kepedihanmu menjadi topik cerita mereka, kepedihan itupun merambah pelan dalam hatiku. Rosda. Segeitu parahkah perjalanan yang telah kau tempuh, tanpa bisa kau jadikan terang kembali jalan hidupmu ???.

Dyto terbangun dari keterpanaannya, ketika terpaan angin pagi itu menyadarkan dirinya yang sedang bersandar pada batang pohon mahoni. Perlahan dia berjalan meninggalkan tempat itu, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana, langkahnya gontai, perlahan sambil sepatunya menyibakkan dedaunan yang terhampar di sepanjang jalan. Dia tidak lagi menikmati kicau burung-burung yang ramai di pucuk-pucuk pohon, atau suara bel beca yang menegurnya di belakang. Pikirannya melayang pada pemandangan yang baru saja dilihatnya. Seorang wanita yang dulu pernah menorehkan berbagai kenangan manis sekaligus berakhir pahit dalam perjalanan hidupnya di masa remaja. Seseorang yang pernah menjadi bintang diantara gadis-gadis kotanya. Paras cantik, penuh senyum, ramah, pandai bergaul, dan senang membantu sesama teman. Akupun tertarik padanya karena dia memiliki sesuatu yang diriku tidak memilikinya, bisik Dyto sepanjang jalan itu. Dia tidak dapat membayangkan betapa kecewa rekan-rekannya mendengar kehadiran dirinya di kota kenangan ini, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Rosda kaget ketika sepintas dia menoleh kejalan saat mengangkat putranya dalam gendongan. Pejalan kaki yang mirip dengan seseorang, pria bertubuh atletis, rambut yang dipotong pendek, langkahnya, gerakkannya, cara berjalannya, cara menoleh ketika ada sebuah beca yang akan lewat darinya, yeah….. dia mirip sekali dengan seorang pria yang dulu pernah mengukir kisah indah masa remajanya, dia mirip sekali. Mungkinkan dia Dyto yang sepanjang waktu masih ada di dalam hatinya….?? Benarkah dia kembali kekota ini ??? yang pernah merusak perjalanan masa remajanya ??? yang menghancurkan cita-citanya…. Yang…. Ach, Dyto…dytoooo, dyyyyytoooooooo. Teriaknya dalam hati.

Untuk meyakinkan dirinya dia bergegas berlari pendek menuju pintu pagar rumahnya, berusaha mendekat kejalan. Yeah…itu dia!! aku kenal sekali dengan cara berjalannya. Aku kenal betul dia, tapi mungkinkah dia kembali ….?? setelah semuanya seperti ini ?? Mungkinkah cintaku kembali ???.

Apakah luka hatinya sudah pulih, atau adakah orang yang mirip dengan Dyto….. Rosda berharap pria itu memalingkan wajahnya kebelakang sejenak saja. Dia ingin memastikan bahwa penglihatannya memang benar adanya !? dia ingin sekali hal ini bukan fatamorgana kenangannya berjumpa dengan pria yang pernah mengukir kisah indah masa remaja dulu. Tapi harapan itu lenyap sudah, pria itu berjalan tanpa menengok kiri,kanan atau kebelakang. Dia berjalan perlahan namun mantap. Seperti dyto yang pernah dikenalnya dulu. Pria yang jika berjalan tidak pernah menengok kiri, kanan, tidak pernah berhenti dijalan sembarangan. Pria yang bertubuh tegap, tatapan matanya yang tajam namun penuh kesejukan, pendiam, tenang dan hanya tersenyum sesekali. Berhati lembut penuh pengertian. Penyabar….dan…ach, tanpa terasa airmatanya menggenang diujung kelopak mata.

Rosda bergegas masuk kerumah sambil menggendong putranya yang diam menatapnya tak mengerti. Diletakkan putranya di kursi ruangan tamu. Dia menuju kepojok ruangan tempat telpon. Langsung di putarnya nomor telpon Hilda, sobat karipnya.

“ Hallo, Hil..!!” Sapanya ketika diujung sana diangkat.

“ Hai, Ros…. Tumben, kok pagi begini sudah mau curhat ?? ada apa sih ??” Jawab Hilda heran.

“ Ah, aku mau tanya apakah Dyto sudah pulang yeah….” Tanya Rosda tak sabar.

“ Dyto,….???” Tanya Hilda terhenyak kaget dan bertambah heran.

“ Kamu gimana sih ??? kok aneh pertanyaannya…??” Sambung Hilda lagi.

“ Aku tadi pagi melihat dia lewat di depan rumah Hil.!!” Jelas Rosda.

“ Ah, kamu mulai ngaco lagi deh ??” Sambar Hilda sambil bertanya dalam hati. Apakah benar dyto sudah kembali ??. Masa dia tidak bilang dulu sama kami teman baiknya ?? atau mau bikin kejutan ?? ah, mungkin saja.

“ Ros,….Rosda. dengarkan dulu penjelasan kami” panggil Hilda.

“ sungguh lho, kami tidak tahu tentang dia !!” seru Hilda lagi, namun disisi sana terdengar gagang telpon diletakkan.

Rosda galau hatinya, rasanya ada kontak batin yang kuat, bahwa lelaki yang baru saja di lihatnya adalah dia yang selama ini selalu menjadi tokoh dalam imajinasinya saat berada dalam kesendiriannya. Dia gamang, resah, gelisah dan ingin secepatnya pergi ketempat yang disukainya untuk menyendiri. Biasanya Rosda pergi ke-tepi pantai Waihaong dekat rumahnya. Di tempat inilah dia bisa betah berjam-jam lamanya, memandang laut lepas, menikmati camar yang terbang, atau layar perahu yang terkembang berliuk-liuk di permukaan laut. Sambil berdialog dengan dirinya sendiri tentang segala sesuatu yang dia rasakan dan pikirkan. Hari ini, misalnya. Dia ingin bicara dengan laut yang selalu setia mendengarkan pengaduannya, tentang pagi tadi dia berjumpa dengan seorang pria yang wajahnya mirip dengan seseorang yang dulu pernah dekat dengannya.

Angin laut menerpa wajahnya yang halus putih bersih, sesekali rambutnya tergerai dimainkan angin, rambut yang panjang hampir sebatas pinggang itu menari-nari lepas, seperti lepasnya hati Rosda membayangkan pertemuannya dengan pemuda yang pernah singgah dulu. Dia mulai menarik cakrawala ingatannya kebelakang, saat dirinya berkembang remaja. Dibayangkannya semua kenangan manis itu sambil menatap jauh diujung seberang lautan sana. Masa yang sangat indah baginya.

PERJUMPAAN

Siang itu dibawah pohon mahoni yang rindang di tepi jalan tanah lapang kecil, Rosda dan kawan-kawannya sedang menunggu mobil angkutan kota pulang dari sekolah. Seperti biasanya murid-murid SMKK (sekolah menengah kejuruan keputrian) Negeri , satu-satunya sekolah kejuruan putri di kota Ambon berbondong-bondong berjalan beriringan keluar dari pintu sekolah, dengan tawa ceria gadis-gadis remaja, sambil bercanda, bercerita dan bergurau dengan gurauan remajanya.

Gadis-gadis cantik jurusan Tata Busana kelas tiga dimana termasuk Rosda dan kawan-kawannya yang sedang menunggu angkot itu mulai riuh, ketika di ujung jalan sana dari arah jalan batu gantung serombongan sepeda motor, sepeda kayuh dan mobil-mobil beriringan, baru saja turun dari arah jalan kuda mati, dimana Dyto dan kawan-kawan bersekolah di-STMN I (Sekolah Teknologi Menengah Negeri I) Ambon. Sekolah teknik terbesar, terlengkap dan terbaik di-Maluku. Dyto dan kawan-kawan saat itu sedang melintas di-Jalan Tanah Lapang Kecil dengan ber-sepeda ria, sepeda yang dimodifikasi dengan dekorasi yang antik menarik perhatian orang. Sambil bercanda mereka mengayuh sepeda dan tiba-tiba Doni berteriak :

“ Ssssttttt, awas ada rombongan bidadari sedang mencari selendang yang hilang “

“ Dimana, Don.??? “ tanya Deni bereaksi cepat sambil mencari pemandangan menarik.

Dyto tersenyum melihat perobahan sikap kawan-kawannya ketika rombongan mereka semakin dekat dengan rombongan remaja putri yang bergerombol dibawah pohon mahoni itu. Rombongan sepeda itu mulai berjejer rapih berpasangan dua-dua dan membuat deretan panjang sambil membunyikan bel sepeda masing-masing.

“ kawan-kawan, ada rombongan bidadari sedang mencari selendang yang hilang oiii “ teriak Bondan sambil melirik kumpulan gadis-gadis itu.

“ Yeah, selendang putri si rambut panjang ada di tas-nya Dyto…..hahahahaaaa” sambut Deni.

“ Putri yang mana eiiii…..” tanya doni memancing.

“ itu-tuh, yang rambut panjang……” jawab Deni.

“ Tuangana eeee……seng tau maluuuu jua “ (Hoi, nggak tahu malu kalian nih) Sahut Nita yang tidak sabar membalas.

“ Iyooo ehh, seng ada muka laii” (iya nih, nggak punya muka lagi deh/nggak tahu malu lagi). Sambung Mona si hitam manis berambut keriting halus itu.

“ Eeehhh, beta pung muka ada di tas nona yang hitam manis ka.. senggg….” (eh, muka saya ada di tasnya gadis yang hitam manis nggak yeah ??”) tanya Roni yang ada hampir di deretan belakang rombongan pemuda STM itu. Namun tiba-tiba punggung Roni disambar ransel Mona yang membuatnya kaget dan menabrak sepeda Candra yang ada di depannya. Para gadis tertawa sambil saling melontarkan ledekan celetukan khas remaja.

Rombongan sepeda pemuda STMN I menepi kepinggir jalan dan membantu kawan-kawannya yang terjatuh tersebut. Doni mengambil inisiative menghampiri kelompok gadis SMKK Negeri itu sambil mengulurkan tangannya kepada Mona yang ketakutan bersembunyi dibalik Hilda dan Rosda. Namun datang Deni dengan raut muka yang ditekuk marah sambil mengepalkan tangannya dan membentak.

“ Seng tahu katong (kita) heh !! seng ada kamong pung nene moyang yang berani deng beta heeee (nggak tahu kita yah!! tidak ada nenek moyang kalian yang berani dengan saya lho) !!!“ sambil menghentak-hentakkan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kirinya, dan mata yang dikeluarkan seperti bola kelereng. Kelompok remaja putri itu mundur perlahan dan mulai merasa ngeri sendiri, terutama Mona yang bersembunyi dibalik Rosda dan Hilda. Dalam hati Deni tertawa geli melihat tingkah laku para remaja putri ini. Kakinya dihentakkan ketanah dan berteriak garang ;

“ Sapa brani ganggu katong pung jalan heh!! Heehhh !!! “ (siap yang berani menggangu jalannya kita hah!!) Bentak Deni.

“ Beta(Saya) !! See mo apa Hahhhh (kamu mau apa hah)!! “ Jawab Hilda tak gentar dengan gertakan Deni, dia melihat ada sorotan mata yang tidak serius dari Deni dengan tindakannya. Diberanikan dirinya sambil berkacak pinggang dan maju selangkah kedepan hampir menyentuh Deni yang sedang berjalan menuju dirinya. Kawan-kawan Hilda terperanjat dengan keberaniannya menggertak balik, mereka mulai maju sambil mengencangkan kulit wajah dibuat seseram mungkin. Deni dan kawan-kawan kaget dengan reaksi balik yang tiba-tiba ini. Dyto berinisiatif maju dan mengulurkan tangannya kepada Rosda yang berdiri dihadapannya. Dia pikir gadis ini lembut, manis dan pasti mau mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan darinya. Seperti dihipnotis Rosda dengan setengah sadar mengulurkan tangannya dan menyunggingkan sedikit senyum ragu-ragu. Dia pikir pemuda ini boleh juga, wajahnya bersih, sorotan matanya teduh tapi tegas, dan nampak tidak segarang teman-teman lainnya, meskipun badannya tegap atletis, namun cara berpakaiannya menunjukkan kerapihan.

“ Maaf yeah…. Kami sudah membuat kalian takut !!?? “ Dyto membuka percakapan sambil menggenggam tangan Rosda yang lembut bagai sutra, dan terasa sejuk dingin, sesejuk orangnya. Betapa bahagianya pemuda yang menjadi kekasihnya kelak. Bisikan hati Dyto berlomba kencang dengan degupan jantung yang tiba-tiba bergetar kencang. Ada aliran listrik yang mengalir deras dari lembut tangannya, ada sesuatu yang membuat dirinya terpana demikian dasyat, sehingga mereka berdua tak menyadari seluruh pasang mata menatapnya tertegun, heran dan …..

“ Hei, enak saja…….kalian !! “ Hilda menghempaskan tangan yang sedang berjabatan itu sambil melirik Dyto yang kaget dan wajahnya menjadi merah jambu karena malu. Hilda menyadari bahwa pemuda yang ada dihadapnya ini ganteng, atletis, sedikit pemalu mungkin. Namun menutupi rasa ini dia menyodorkan tangannya juga kepada Dyto.

“ Gantian donk ?? “ sambungnya sambil melirik Rosda yang tersenyum menyambutnya. Ketegangan diantara mereka mencair begitu saja dan masing-masing mengulurkan tangan, berjabat tangan, berkenalan dan saling menyebut nama. Kelompok pemuda itu riuh menuju sepeda masing-masing dan bersiap melanjutkan perjalanan. Mona menghampiri Deni dan berbisik pelan ‘

“ lain kali matanya dikeluarkan sekalian yeah,….” Deni tersenyum sambil melambaikan tangannya. Roni mendekati Mona dan berbisik padanya,

“ Mona, boleh nggak beta (saya) minta nomor telpon ose (kamu). “ sambil bersiap-siap di sepedanya.

“ ouh, boleh saaa (saja), tapi nanti saaa… “ goda Mona, sambil melihat reaksi Roni.

“ Yeah, kalo Ose seng mau, seng apa-apa laiii

( yeah, kalau kamu nggak mau nggak apa-apa kok) “ goda Roni.

Rombongan pemuda itu berlalu dan riuh diperjalanan pulang. Masing-masing dengan terbuka menunjukkan bahwa mereka naksir salah satu gadis kelompok siswi SMKK tersebut.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: