Eddybudianto’s Weblog


MEMBEDAH DIRGANTARA INDONESIA
Juli 4, 2008, 4:14 am
Filed under: Pandangan

Latar peristiwa.

Mengamati perkembangan perusahaan industri pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia terdapat beberapa hal yang menarik untuk dijadikan pelajaran, dan akan bisa menjadi preseden bagi pengambilan kebijakan pemerintah dikemudian hari. Dimana setelah dua puluh tujuh tahun berjalan, industri pesawat satu-satunya yang dimiliki bangsa Indonesia ini menjadi bahan perhatian serius dan hampir saja menjadi monumen abadi bangsa Indonesia, yang pernah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia mulai dari merancang, membuat dan menerbangkan pesawat terbang hasil karyanya sendiri, namun belum sempat bisa dijual, karena terhambat oleh kesiapan dan kesanggupan para pihak terkait yang tidak bersinergi, bahkan akhirnya saling meniadakan peran antar mereka sendiri.

Saat ini, PT Dirgantara Indonesia sedang berada dipersimpangan jalan dan harus menyusun kembali grand starteginya untuk bisa bertahan hidup, mandiri dan kemudian tumbuh ditengah-tengah industri sejenis baik dilingkungan regional, bahkan lingkungan internasional. Upaya ini akan kembali kandas jika berbagai pihak yang sangat bertanggungjawab terhadap langkah kedepannya itu tak lagi secara serius membahas hal ini dalam rangkaian integral proses pembangunan bangsa Indonesia, mengingat industri pesawat terbang diberbagai belahan dunia tidak terlepas dari peranan pemerintah negaranya.

Lingkungan eksternal perusahaan yang demikian kompleksnya, serupa dengan kompleksitas perusahaan yang berkarakteristik teknologi tinggi, padat modal, dengan persyaratan kualitas yang sangat ketat, termasuk memerlukan SDM dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sepadan dengan karakter utamanya. Kompleksitas itu tentunya harus ditangani secara khusus yang melibatkan berbagai unsur terkait, yang pada gilirannya akan bersinergi bagi kepentingan nasional. Hal ini tercermin dari misi yang dipikulnya antara lain menjadi wahana transformasi penguasaan teknologi transportasi udara khususnya pesawat terbang dan sebagai pendorong bagi industri nasional lainnya.

Perjalanan panjang selama dua puluh tujuh tahun telah menghasilkan berbagai produk dan jasa seperti assembling pesawat terbang CN235 sebanyak 37 unit, NC212 sebanyak 112 unit, Helikopter NBO-105 sebanyak 112 unit, NAS-332 22 unit, NBELL-412 sebanyak 26 unit, Roket FFAR 2,75 sebanyak 40.339 unit, SUT TORPEDO sebanyak 152 unit, berbagai komponen pesawat terbang F16, Boeing 737, 767, modifikasi pesawat terbang Herkules C 130(L-100), pengembangan pesawat terbang dan sistem-sistem (MPA=Maritim Patrol Aircraft, Troop Transport, Medivac, Paratrooping, LAPES, Cargo Logistic Transport, Cargo Dropping, SAR, dll). (Data diambil tahun 2001).

Hal ini bisa dijadikan gambaran betapa gerakan perkembangan perusahaan ini telah membuat dampak gelombang yang mendorong pertumbuhan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin cepat, tepat dan berdaya guna tinggi. Dimana kita bisa lihat tumbuhnya sekolah-sekolah penerbangan; sekolah teknologi penerbangan baik tingkat SMK maupun Akademi, bahkan sampai tingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Armada operator penerbanganpun berkembang pesat, dan industri pendukung dari produk-produk penerbangan bertambah, serta usaha-usaha lain baik langsung maupun tak langsung yang terkait dengan dunia penerbangan berkembang karena adanya industri pesawat terbang ini.

Dalam perkembangannya menuju kemandirian bangsa dibidang industri pesawat inilah; tantangan , hambatan, dan rintangan datang secara bertubi-tubi, memaksa untuk merevisi secara total kebijakan-kebijakan jangka jauh kedepan. Revisi strategis perusahaan itu akhirnya berdampak pada restrukturisasi menyeluruh. Hal ini didorong pula oleh kondisi dan situasi negara Indonesia sejak tahun 1997 sampai saat ini, dimana perhatian pemegang saham terhadap industri ini semakin melemah dan berkurang. Ditambah dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak dikaji secara komprehensip dan mendalam pada jangka waktu dua-tiga tahun terakhir dan membuat permasalahan semakin rumit. Apalagi jika kita tinjau dari adanya berbagai kepentingan pihak luar yang menginginkan supremasi dunianya tidak diganggu dengan keberadaan industri pesawat terbang dilingkungan Asia Pasifik. Sehingga tidak mengherankan jika kita bangsa Indonesia mengalami terpaan dari berbagai sisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Cikal bakal modal bangsa untuk tumbuh dan berkembang dalam era teknologi tinggi itu kini semakin terjerembab pada pola pikir liberalisme sempit, dimana tercermin pada pemikiran dan pola tindak seorang menteri ( Laksamana Sukardi) yang punya kewenangan mengendalikan Badan Usaha Milik Negara yang melontarkan pernyataan dengan intinya bahwa “jika kita punya uang! Cukup kuasai teknologi cara pemakaian produk teknologi tinggi-nya saja, daripada membuat atau menciptakan produk dari hasil penguasaan teknologi tinggi tersebut”. Padahal mungkin beliau lupa bahwa bangsa kita harus berjuang keluar dari cengkraman bangsa lain yang pada dasarnya punya semangat menjajah. Oleh sebab itu menguasai teknologi tinggi meskipun dengan konsekuensi membutuhkan biaya yang cukup besar merupakan suatu keniscayaan. Ironisnya beliau merupakan salah satu alumni (bahkan kini menjabat ketua ikatan alumni perguruan tinggi tersebut) yang punya kepentingan untuk menjadi pionir penguasaan teknologi di negara Indonesia ini.

Kembali kepada tingkat kepedulian pemerintah terhadap nasib industri pesawat terbang satu-satunya milik bangsa Indonesia ini (yang sedang sekarat), dan memerlukan perawatan intensif dari pemerintah, harus dipertimbangkan pula perihal dampak ikutannya jika keputusan yang akan diambil pemerintah itu berkaitan dengan sumber daya manusia-nya yang kini dimiliki dan sebagai asset industri pesawat terbang Indonesia tersebut. Sedangkan pembinaan dan pembentukan kompetensi personil karyawannya ini telah mengeluarkan daya upaya yang signifikan baik berupa waktu maupun biaya yang cukup besar.

Sangat disayangkan jika kompetensi yang cukup besar ini akhirnya diabaikan dari pertimbangan dalam langkah merestrukturisasi perusahaan secara menyeluruh. Bagaimana nasibnya personil yang selama puluhan tahun mengabdi dan berpartisipasi aktif dalam membangun citra bangsa didunia penerbangan khsusnya industri pesawat terbang dan produk-produk ikutan lainnya (spin off technology) ini. Apakah mereka akan diabaikan begitu saja ?!!, sebagaimana halnya yang pernah terjadi dengan pekerja-pekerja industri lainnya yang mengalami hal sama (PHK sepihak) sebelum peristiwa ini terjadi !!! padahal mereka adalah orang-orang yang handal dan dapat dikatakan orang yang memiliki kompetensi langka, namun karena beban pekerjaan bagi mereka berkurang bahkan sebagian tidak ada lagi, maka mereka harus menanggung semua ini begitu saja ?! tanpa perhatian yang serius dari pemerintah !!! alangkah sangat naifnya jika hal ini tidak menjadi perhatian serius.

Bukan tidak mungkin masalah ini akan mendatangkan permasalahan yang sangat serius dikemudian hari bagi bangsa dan negara kita. Terlepas apakah pejabat pemerintahan itu dari golongan atau parpol manapun, namun aset bangsa yang punya nilai strategis ini jika diabaikan, akan mendatangkan permasalahan kompleks bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Siapapun tokohnya, darimanapun golongan atau parpolnya, jika mengabaikan hal ini akan menghantarkan malapetaka bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Kepentingan bangsa dan negara haruslah dijadikan perhatian utama, mengingat tanggungjawab mengisi kemerdekaan ini adalah tanggungjawab kita bersama. Bayangkan jika tenaga-tenaga potensial bangsa ini akhirnya hanya sebagai pekerja bahkan budak dari kebengisan imperialisme baru dengan baju sebagai penanam modal asing. Dimana jika sumber alam sudah terkuras habis, mereka pergi begitu saja dengan memboyong keuntungan yang berlimpah ruah. Sementara bangsa kita kembali sebagai pemakai, pembeli, pekerja dan jajahan bangsa lain dengan bentuk baru.

Bayangkan jika sumber daya manusia yang tinggi kompetensinya sudah terasuki bisikan syetan, sehingga akhirnya menjadi kelompok yang merasa tertindas dinegerinya sendiri, kemudian menjadi kelompok oposan tak terkendali, lalu merongrong bangsanya sendiri dengan membuat gerakan-gerakan yang sangat merugikan perikehidupan bangsanya sendiri. Apalagi jika mereka dimanfaatkan pihak lain (negara lain) yang mempunyai kepentingan untuk menguasai sumber daya bangsa kita yang katanya melimpah ruah ini ? dengan cara memberikan dukungan biaya tak terbatas untuk membuat suasana menjadi instabilitas. Betapa ruginya bangsa kita jika tenaga-tenaga yang punya keakhlian ini dengan mudah dimanfaatkan bangsa lain dengan imbalan uang yang menggiurkan, akhirnya digunakan untuk menghancurkan bangsanya sendiri. Betapa tak berdayanya kita jika uang sudah menjadi andalan bagi pola kehidupan bangsa Indonesia, sehingga pertimbangan untuk membela tanah air sudah dinomor tigakan. Betapa ironisnya bangsa kita jika ukuran-ukuran materialistis sudah menjadi standar hidup, bukan lagi nilai-nilai luhur dan budaya bangsa yang telah diwariskan dari pendahulu kita yang dijadikan pegangannya.

Betapa sayangnya jika potensi dari tenaga-tenaga akhli ini diabaikan begitu saja. Sekian ribu orang yang punya potensi terabaikan oleh pemerintah yang tidak mengkajinya secara komprehensip. Apalagi sampai tidak memberikan bantuan moril maupun materiil yang memadai bagi mereka untuk menyiapkan diri bersurvival, bahkan dapat membangun peluang-peluang lapangan kerja baru yang signifikan bagi masyarakat sekitarnya.

Padahal tenaga-tenaga akhli karyawan PT Dirgantara Indonesia ini telah dan sudah mampu melakukan berbagai rancang bangun antara lain mampu melaksanakan pengembangan teknologi pesawat bermesin Jet (N2130), desain pesawat terbang fly by wire, pengembangan sistem-sistem ; ASW (Anti Submarine Warefare), AEW (Airborne Early Warning), ASV (Anti Surface Vessel), SIGINT (Signal Intellegent, SAR (Search and Rescue), C3 (Command Control & Communication), LADS (Laser Airborne Depth Sounding), Pollution detection, Radar Mapping, Optical Mapping, Aircraft modification, Engineering design, System Integration Services, measurement and Calibration of the electronic systems/instrumentation, structure test, dan berbagai pengembangan kemampuan non core lainnya. Bukan tidak mungkin mereka akan menjadi stimulan bagi percepatan pemulihan kondisi ekonomi bangsa Indonesia dikemudian hari karena membangun ketahanan ekonomi bangsa.

Jadi kesempatan membangun dunia usaha baru dapat dikembangkan sejalan dengan adanya pemberdayaan tenaga-tenaga akhli yang dihasilkan oleh Industri Pesawat Terbang PT Dirgantara Indonesia yang bergerak diberbagai bidang baik terkait langsung dengan indsutri pesawat terbang maupun spin off technology-nya yang sangat luas.

Betapa ironisnya karyawan industri pesawat terbang di negeri ini yang sejak berdiri-nya di tahun 1976 hingga kini belum merasakan kesejahteraan yang layak karena terlanjur berangkat dari idealisme padamu negeri kami berbakti. Telah banyak terjadi mereka yang disia-siakan karena kelompok orang yang ditugaskan pemerintah sebagai pengendali perusahaan bertindak memanfaatkan semangat padamu negeri kami berbakti dari karyawannya untuk bertindak sesuka hati menentukan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada kesejahteraan karyawan. Dengan alasan yang klise bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan.

Jika dibandingkan dengan industri pesawat terbang lainnya di berbagai belahan dunia, maka standar gajinya belum mencapai tingkat yang minimum sekalipun. Namun karyawannya sekali lagi tak pernah mempersoalkan secara serius mengenai permasalahan kesejahteraan itu, mengingat modal semangat padamu negeri kami berbakti itu selalu menjadi penghibur hati. Padahal sejak awal berdirinya perusahaan itu, pemerintah (terlepas siapa atau dari golongan mana dia yang berperan sebagai pemerintah saat itu) selaku pemegang saham telah mencanangkan visi dan misi perusahaan ini sebagai institusi yang diberi tugas untuk penguasaan alih teknologi bagi bangsa Indonesia. Konsekuensinya ukuran-ukuran kinerja bisnis harus dinomor-duakan dan kebutuhan-kebutuhan dana sebagian harus ditanggulangi pemerintah. Namun hanya pada waktu terakhir ini tiba-tiba pemerintah mengarahkan misi perusahaan ini menjadi suatu entity yang berorientasi bisnis, sehingga semua ukuran kinerjanyapun dipandang sama dengan perusahaan yang sejak kelahirannya sudah berorientasi bisnis. Dimanakah keadilan itu ?? Sedangkan sejak berdirinya hingga saat ini Visi dan Misi yang ditentukan masih belum berubah secara menyeluruh. Jika akhir-akhir ini para pihak mengukur dan menilai dengan alat ukur berbeda bahkan cara mengukur dan observasinya pun dari sudut pandang yang berbeda pula, sehingga dapat diyakini bahwa hasil kesimpulannya pun akan terjadi bias. Celakanya jika sampai hasil kesimpulan itu dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan yang sifatnya strategis. Hal ini akan mempercepat proses pembusukan performansi secara menyeluruh.

Saat ini yang perlu diluruskan adalah cara pemerintah dalam mengambil sikap atau keputusan agar dapat berlaku seadil-adilnya. Mengingat bahwa kondisi perusahaan hingga menjadi seperti sekarang ini tidak terlepas juga dari keputusan-keputusan pemerintah yang mengutamakan misi nasionalnya dibanding dengan kepentingan kelangsungan hidup perusahaan. Jangan sampai mengorbankan kepentingan karyawan yang telah ikut berjuang membesarkan perusahaan, apalagi letak kesalahannya seimbang antara peran direksi sebagai wakil pemegang saham dengan karyawan disisi lainnya. Dimana hubungan industrial itu mutlak harus dibangun dan diciptakan suasana yang harmonis.

Berikut ini kami sampaikan gagasan yang masih dalam tingkat wacana dan dapat dijadikan pertimbangan bagi aparat pemerintahan yang bertanggungjawab dengan urusan ini.

Usulan solusi

Kapabilitas tenaga kerja dari industri pesawat terbang ini telah terbukti di berbagai sektor industri lainnya, dimana kompetensi yang beragam dapat secara cepat diadaptasikan dengan lingkungan setempat, sehingga daya saingnya jelas akan lebih tinggi dari yang lainnya.

Oleh sebab itu solusi dari permasalahan yang terjadi diperusahaan PT Dirgantara Indonesia ini dapat dijadikan sebagai pilot project penanganan ketenagakerjaan di-Indonesia yang melibatkan berbagai sektor dan merupakan kegiatan lintas sektoral, sehingga dapat dijadikan standar untuk mengatasi permasalahan serupa dikemudian hari. Namun gagasan ini dapat diwujudkan hanya jika hubungan lintas sektoral departemental pemerintahan berada dalam satu rel yang sama yaitu membangun peluang-peluang dunia usaha dengan memberikan stimulan-stimulan yang terintegrasi dengan baik, dimana hubungan antar entity atau komponen yang terkait merupakan hubungan tertutup menjadi pusaran penggerak dunia usaha, sehingga riaknya dapat secara beruntun menggerakkan sektor-sektor usaha lainnya tumbuh dan hidup bersama saling mendukung membentuk kekuatan dan daya tahan menghadapi serangan maha dasyat dari negara lain melalui gerakan globalisasi ekonomi yang terus bergerak itu. Adapun Entity yang dapat dilibatkan adalah :

- Depnakertrans ;

Dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator dan mediator mengenai ketenagakerjaan dan berbagai hal mengenai pengaturan ketenagakerjaan. Departemen ini menyiapkan bank data dan peta ketenagakerjaan baik secara regional maupun nasional. Bahkan menjembatani terbentuknya asosiasi profesi khusus ketenagakerjaan yang belum tersedia sebelumnya. Disamping itu departemen ini juga menyiapkan jalinan informasi terpadu mengenai kebutuhan riil dari perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja spesifik dengan kualitas taraf internasional. Kaitannya dengan karyawan PT Dirgantara Indonesia, diberikan informasi tentang berbagai peluang yang sesuai dengan kometensi yang dimiliki.

- Deperindag ;

Bertindak sebagai institusi yang membina industri-industri pemakai tenaga kerja potensial, membina dan membangun plasma-plasma usaha dari berbagai industri yang telah berkembang dan membutuhkan dukungan, sehingga memperkuat daya saing industri yang bersangkutan terhadap industri sejenis dari negara lain. Membuka peluang-peluang pasar baru bagi industri plasma baik didalam maupun luar negeri. Disamping itu departemen ini membangun jaringan yang menghubungkan dan mempermudah birokrasi antara industri-industri plasma dengan pemilik modal atau institusi keuangan/perbankan nasional. Kemudian secara rutin melakukan perbaikan serta membina standar kerja maupun standar industri-industri, sehingga industri tersebut dapat secara terus-menerus mengikuti perkembangan pasar baik nasional maupun internasional.

- BPPT ;

Disamping pembinaan pengembangan teknologi, institusi ini juga sebaiknya lebih difungsikan sebagai pusat jaringan informasi perkembangan hasil riset bagi berbagai industri yang aplikan untuk menghadapi perkembangan yang sangat pesat dari kemajuan temuan-temuan berteknologi tinggi dunia, sehingga pembaharuan dan pencerahan hasil-hasil produk terus dibuat untuk meningkatkan daya saing industri utama maupun industri plasmanya. Dengan pengertian bahwa biaya riset yang tinggi namun menghasilkan nilai tambah yang strategis bagi bangsa dan negara maupun industri bersangkutan haruslah ditanggulangi oleh negara melalui institusi BPPT ini. Sehingga beban biaya litbang bagi industri yang bersangkutan dapat ditekan sedemikian rupa dan dapat meningkatkan daya saingnya. Dalam kaitan ini BPPT dapat memberdayakan tenaga-tenaga akhli karyawan PT Dirgantara Indonesia dengan memberikan proyek-proyek penelitian yang bersifat strategis tadi untuk dikerjakan, dan hak karya intelektualnya dapat dikuasai oleh BPPT sebagai pemberi kerja. Bagi industri utama maupun plasmanya akan ditugaskan memproduksi secara masal dan dipasarkan oleh bantuan Deperindag melalui insentif-insentif tertentu.

- DEPHANKAM / TNI-POLRI

Departemen ini bertindak sebagai pemakai, sekaligus penjamin untuk poduk-produk militer yang dihasilkan industri plasma dan secara rutin memberikan bimbingan teknis maupun masukan dari hasil produk yang telah dipakai untuk dilakukan perbaikan. Kaitannya dengan karyawan PT Digantara Indonesia adalah bagi tenaga-tenaga akhli dibidangnya khusus untuk industri senjata dan militer, diberi kesempatan bergabung di-Industri plasma yang memproduksi perlengkapan militer khusus, baik pada sektor engineering riset, produksi, administrasi tehnik, maupun lainnya. Apalagi sebagian sahamnya juga dimiliki oleh Dephankam/TNI-POLRI dan hak karya intelektualnya dari hasil riset maupun pengembangan produknya tetap dimiliki oleh Dephankam yang telah membiayai riset atau penelitian tersebut.

- Kementrian P-BUMN

Sebagai institusi yang membina secara langsung terhadap PT Dirgantara Indonesia ini seharusnya mempunyai perhatian besar dan secara intens mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi berbagai perkembangan yang terjadi. Peranan kementrian P-BUMN saat ini menjembatani karyawan PT Dirgantara Indonesia dengan pihak manajemen dan semua fungsi terkait dengan PT Dirgantara Indonesia. Menciptakan suasana dan arah pencapaian solusi permasalahan yang win-win solution, sehingga terwujud situasi dan kondisi yang kondusif. Disamping itu kementrian BUMN dapat membangun unit-unit usaha plasma yang berada di area hulu suatu jalur rangkaian industri dan atau diarea hilirnya, sehingga meningkatkan kemampuan dukungan kandungan lokal (local contens) dan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar negeri, sekaligus meningkatkan daya tahan industri secara nasional.


Lanjutan tulisan…………………….( Januari 2009 )

Keterkaitan antar lembaga/institusi dilingkungan pemerintahan maupun non pemerintah saat ini nampaknya belum menggambarkan soliditas pengendalian pemerintah atas kepentingan nasional, sehingga nasib Dirgantara Indonesia sangat mudah dipermainkan oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dalam rangka mengupayakan perkayaan diri sendiri dan kelompoknya ( korupsi yg terstruktur).

Dapat dikatakan sekarang bahwa Dirgantara Indonesia dalam kondisi sekarat bahkan hampir mati suri. Betapa indikator ketahanan suatu industri sudah nampak jelas sangat rapuh. Kita bisa lihat saja usia mesin-mesin produksi rata-rata diatas 20 tahunan, ditambah dengan up-grading skill tenaga kerja yang rasionya sangat kecil dibanding jumlah personil pertahun.( dibawah 5% jumlah tenaga kerja yang di up-grade skillnya pertahun), bahkan jumlah tenaga kerja yang mempunyai sertifikasi keahlian sebagaimana yang disyaratkan untuk suatu industri teknologi tinggi sangat kurang. jika lebih menyeluruh, apakah production certification yang dipersyaratkan untuk suatu industri pesawat telah diperbaharui ?? bila belum, maka sederet kendala pengelolaan industri ini akan semakin bertambah.

Kondisi ini semakin diperparah lagi oleh rendahnya temuan hasil riset untuk produk-produk baru yang merupakan suatu prasyarat kekuatan daya saing di lingkungan industri teknologi tinggi tersebut. Apakah Dirgantara Indonesia sudah mempunyai terobosan baru dengan menciptakan produk unggulan baru sebagai langkah mengupayakan kekuatan daya saing industrinya. nampaknya hal ini tak dapat dijadikan harapan untuk membangun daya saingnya, belum lagi tingkat kepercayaan masyarakat international terhadap eksistensi industri pesawat satu-satunya di Indonesia ini telah berkurang drastis. dimana sampai saat ini kontrak-kontrak kerja baru tidak ada yang signifikan dapat menjadi kontribusi bagi penambah kekuatan daya saing perusahaan. Disisi lain hubungan industrial antara pekerja dengan pimpinan perusahaan tak dapat disebut bersinergi untuk meningkatkan produktivitas kerja, bahkan struktur organisasi perusahaan bukan semakin ramping namun bahkan semakin menggelembung, dengan komposisi struktural yang lebih banyak dilevel menengah keatas.

Tenaga kerja yang berlisensi international pun kini mayoritas sudah mengundurkan diri, dan yang tinggal hanya mereka yang memang kurang mempunyai wawasan dan keberanian untuk mengupayakan pengembangan dirinya. Disamping terjadinya demotivasi yang lebih kuat lagi, ketika dikeluarkan peraturan baru tentang Dana Pensiun yang akan dikenakan potongan diatas 10% ketika karyawan menerima secara lungsum, saat mereka pensiun. ironis sekali nasib karyawan yang telah mengabdi berpuluh-puluh tahun dengan dedikasi yang demikian besarnya akhir pengabdiannya memprihatinkan.

Jika kita membuat prediksi jangka menengah, ketika kepedulian terhadap keberadaan industri dirgantara ini sangat rendah, maka kondisi itu dapat kita gambarkan sebagai berikut ;

Order / pesanan pemerintah dikurangi karena keterbatasan pendanaan, dan mendesaknya kebutuhan rekondisi alut TNI / Hankam yang menuntut segera diatasi, karena usia peralatan mereka sudah rata-rata diatas 25 tahun. oleh sebab itu harus segera mengambil langkah memesan pada industri Hankam di negara lain. Hal ini berarti mengurangi perkiraan pendapatan yang sifatnya captive, sehingga akan berdampak langsung terhadap akselerasi perbaikan kondisi perusahaan, bahkan mungkin akan mengurangi pemasukan perusahaan secara langsung dari order-order yang sifatnya captive.  dapat kita duga akhirnya kekuatan perusahaan akan semakin lemah dan mudah-mudahan tidak semakin terpuruk.

ciri-khas perusahaan yang padat modal dan padat teknologi seperti ini, adalah ketika investasi, inovasi, dan inisiatif dalam membuat terobosan-terobosan  intensitasnya menurun dibandingkan pergerakan pesaingnya, maka  posisi usahanya akan mencapai titik nadir, akhirnya menunggu belas kasihan untuk di rawat inap.

( bersambung …… )



KESELAMATAN DIRI MELALUI TIGA POROS UTAMA
Juni 27, 2008, 1:06 am
Filed under: Pandangan | Tag:

Makhluk hidup di dunia ini saling terhubungkan satu dengan lainnya, bagaikan rangkaian sel-sel atom. Demikian pula dalam struktur tubuh manusia sebagai bagian dari mahkluk hidup yang ditakdirkan Tuhan untuk menjalani proses hidupnya. hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan flora, manusia dengan fauna, manusia dengan alam jagad raya, dan manusia dengan Tuhannya.

Ketika proses hidup manusia tersebut sedang berjalan, maka simpul-simpul dalam tubuh manusia itu sendiri melakukan aktivitas rangkaian jaringannya. Jaringan tersebut semakin rumit ketika diurai sampai dengan sel-sel tubuh yang terkecil. Namun saat ini kita hanya meninjau dari jaringan besar dalam tubuh manusia yang menggerakkan seluruh organ untuk beraktivitas.

Terdapat tiga poros utama, atau entiti penting yang menjadi pusat aktivitas itu, antara lain poros qolbu, otak dan otot. Ketiga poros tersebut saling berhubungan erat dan saling pengaruh mempengaruhi. Berawal dari Qolbu ketika kita diberi stimulan kejadian yang berkaitan dengan pertimbangan rasa, lalu kontak ke otak untuk memberi pertimbangan rasio dan kontak ke otot untuk pertimbangan raga. Respons diri dari sang manusia tersebut terjadi ketika terdapat sinkronisasi hasil pertimbangan dari ketiga poros tersebut.

Pertimbangan rasa dari qolbu seharusnya menjadi sandaran utama untuk semua interaksi tersebut, karena bekal dari kearifan manusia berasal darinya. Qolbu sangat erat hubungannya dengan bimbingan Ilahiyah, mengingat norma-norma hidup dan kehidupan semua datang dari-NYA, sehingga ketika manusia akan melakukan tindakan atau gerakan raga, maka tidak terlepas dari ketentuan-ketentuan hidup dan kehidupan dirinya yang menjadi pembatas utama terhadap norma-norma pergaulan antara manusia yang disebut ber masyarakat, yang tentunya bertujuan untuk keselamatan dirinya. coba kita refleksikan ini dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tindakan kita tanpa mempertimbangkan masukan dari Qolbu, maka hal yang terjadi adalah tindakan tanpa batas, tanpa arah dan tanpa kendali. Sehingga sering orang seperti ini disebut Sadis, Bengis, Radikalis, tidak beradab, dsb-nya.

Pertimbangan akal dari otak, setidaknya akan menjadikan manusia rasional dalam bertindak. Dia akan menjadi penting ketika dalam melakukan aktivitasnya manusia membutuhkan ilmu, yang nota bene menjadi bahan konsumsi utama dari otak. Bagaimana jadinya jika manusia bertindak tanpa ilmu, tentu korban utamanya adalah otot, dan Qolbu. Dimana otot akan melakukan aktivitas yang ekstra keras dan Qolbu menerima beban beratnya.

Pertimbangan raga dari otot, terkait dengan kapasitas dan kapabilitasnya untuk melaksanakan perintah otak dan Qolbu secara simultan. Bagaimana kiranya jika raga manusia sangat lemah, maka perintah Qolbu maupun Otak tak dapat dilaksanakan dengan baik atau bahkan tak berfungsi, sehingga sinkrnisasi tindakan tidak dapat berjalan dengan baik.

Selanjutnya bagaimana jika kita akan mencapai hasil yang optimal dalam proses hidup dan kehidupan ini ? tentunya melakukan manajemen QOTAK. Yaitu mensinkronkan antara Qolbu, OTot, dan otAK.

sinkronisasi QOTAK tak semudah dibayangkan orang, sebagaimana ada orang yang mencetuskan ide manajemen QOlbu ?? namun bagaimana dengan manajemen OTot dan manajemen otAK – nya ??. tiga sumbu ini akan menjadi satu kesatuan untuk melaksanakan manajemen QOTAK tersebut.

Parameter yang menjadi andalan pengukuran masing-masing kuadran dapat di ikuti pada tulisan berikut ini.

Keseimbangan QOTAK.

kestabilan diri adalah pencapaian keseimbangan antara peran Qolbu, Otot, dan Otak. Ketika Otak berfikir akan melakukan sesuatu berdasarkan landasan ilmu yang ada padanya, maka saat itu pula peran Qolbu menjadi penyeimbang tindakan yang akan dilakukan. Dasar pertimbangan dari Qolbu adalah pengalaman diri atas hubungannya dengan berbagai dimensi. Dimensi utamanya tentu terhadap Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Kuasa, baik disadari maupun tidak fitrah manusia itu sendiri pasti berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Seorang yang atheis sekalipun pasti mencari sandaran sesuatu yang spesifik dan tak bisa didefinisikannya sendiri. Dimensi berikutnya dari Qolbu selain kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itu adalah hasil olah rasanya terhadap alam sekitar dirinya, disamping perbendaharaan lainnya dari Qolbu. Kemudian pertimbangan dari Otot mulai merespon perintah tersebut untuk dilaksanakan. Dasar pertimbangan otot ini tentunya condong pada hal-hal yang sifatnya phisikal. Utamanya yang berkaitan dengan capability dan capacity organ otot untuk melaksanakan perintah tersebut.

suatu contoh sederhana untuk mensimulasikan keseimbangan itu dapat digambarkan sebagai berikut ; seorang pengembara berniat akan melakukan perjalanan keliling dunia (pertimbangan pertama dari Qolbu), namun dia berfikir (pertimbangan Otak) bahwa dirinya perlu pengetahuan tentang tempat-tempat yang akan ditujunya, pengetahuan tentang prosedur perjalanan, dlsb. disamping itu ototnya (pertimbangan raga) merespon dengan kemampuannya untuk menunjang maksud tersebut, misalnya ada beberapa fungsi tubuhnya tidak berperan dengan baik karena cacad. tentunya niat tersebut mengalami tantangan dan bisa jadi niat tersebut mengalami penundaan bahkan batal terlaksana. Oleh sebab itu keseimbangan antara ketiga poros tersebut bisa dicapai, ketika masing-masing poros saling mendukung/melengkapi, atau saling mengeliminir, atau saling mengisi kekurangan yang ada. ( bersambung……. )



PEPERANGAN MULTIDIMENSI
Juni 10, 2008, 10:44 am
Filed under: Pandangan | Tag: ,

Pada abad duapuluh satu ini hubungan antar Negara dan bangsa-bangsa di dunia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Dimana ada hubungan positif yang berupa kerjasama untuk sama-sama menghasilkan manfaat bagi bangsanya masing-masing. Sebaliknya ada pula hubungan negative berupa konflik antar bangsa dan Negara yang berupa peperangan fisik (militer) maupun dalam bentuk lainnya (perang ekonomi, politik, social, budaya, ideology dsb).Apalagi terkait dengan globalisasi yang semakin terbuka lintas batas antar wilayah..

Oleh sebab itu sering ditemui hubungan antar bangsa dan Negara terjalin dengan pendekatan dua sisi yang bertentangan tersebut. Suatu saat pembinaan hubungan itu dengan cara yang positip namun di saat lain hubungan negative yang ditempuh. Tentunya tergantung kesiagaan bagi Negara ybs, jika Negara tersebut mengalami kerapuhan, maka Negara lain yang menjalin hubungan dengannya akan menggunakan cara hubungan negative untuk mengambil manfaat bagi Negara tersebut. Siapkah kita menghadapi peperangan multidimensi seperti ini ??? Perlukan kita memandang persaingan antar bangsa itu dari sisi peperangan dengan strategi satu pertempuran ke pertempuran lainnya, baik secara fisik/militer, naupun social, ekonomi, politik, idologi, dlsb.Yang tiada berujung ??

I. Pendahuluan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah mencapai usia lebih setengah abad, saat ini memasuki masa penting sebagai suatu bangsa di tengah-tengah bangsa lain di dunia. Berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa dan memiliki 17.000 pulau, dengan posisi strategis di tengah garis katulistiwa sepanjang kurang lebih seperdelapan lingkaran bumi, terapit dua samudera dan dua benua. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari lautan.

Pengalaman menunjukkan bahwa hidup berdampingan antar bangsa di dunia ternyata tidak se-sederhana seperti apa yang dibayangkan. Ketika kondisi kekuatan pertahanan bangsa dalam titik yang ter-rendah, maka pada saat itu pula Negara lain akan melakukan manuver uji coba kekuatan lawan (karena merasa lebih kuat) dan timbul kepentingannya untuk menguasai bangsa lain tersebut.

Hal ini sebagai tantangan yang tak dapat diabaikan begitu saja. Meskipun bangsa kita sedang dilanda berbagai krisis, namun perhatian terhadap adanya ancaman itu haruslah tetap menjadi prioritas. Urusan pertahanan dan keamanan bangsa ini bukan hanya ditumpukan kepada aparat pemerintah dalam hal ini TNI dan Polri saja, namun sudah menjadi tanggungjawab kita bersama seluruh rakyat Indonesia. (lihat system pertahanan keamanan rakyat semesta/SISHANKAMRATA)

Oleh sebab itu meskipun peralatan perang yang dimiliki TNI banyak yang sudah kadaluarsa teknologi maupun kadaluarsa usia pakainya, namun pihak Negara lain masih harus berhitung berkali-kali untuk mencoba menggoyang bangsa Indonesia. Karena ternyata rakyat Indonesia sebagai kekuatan utama dari bangsa ini tak dapat diabaikan begitu saja. Semangat patriotisme, kejuangan dan pewarisan nilai-nilai juang 45 masih menjadi perekat yang kuat. Kita bisa lihat ketika daerah perbatasan Negara ini diusik lagi oleh Negara tetangga Malaysia, maka secara spontan ribuan pemuda, orangtua, pria/wanita di seluruh pelosok tanah air menyatakan diri siap membela tanah airnya. Sangat disayangkan fenomena ini tak dimanfaatkan oleh pemerintah, dimana sebagai komponen bangsa sebenarnya dapat disinergikan menjadi kekuatan bangsa yang di berdayakan sebagai bagian dari unjuk kekuatan bangsa Indonesia untuk memberikan peringatan dini bagi bangsa lain yang ingin mencoba mengganggu tanah air Indonesia tercinta ini.

Oleh sebab itu dalam rangka mendukung kepentingan nasional untuk memperkuat ketahanan dan pertahanan negara Indonesia, sedapat mungkin harus muncul dari kekuatan sendiri, dan memperkecil peranan atau bantuan dari Negara / bangsa lain. Sedini mungkin kita mengurangi tingkat ketergantungan terhadap negara lain bahkan bila perlu sampai pada batas minimum. Meskipun kita dihimpit kewajiban dalam menyelesaikan hutang Negara sekalipun, mestinya pertimbangan utamanya adalah upaya mendikte Negara lain terhadap Negara kita harus dicegah sedini mungkin.

PETA KEKUATAN BANGSA DALAM BERBAGAI PERSFEKTIF

Sejauh manakah kekuatan pertahanan dan ketahanan bangsa kita dalam menghadapi berbagai ancaman baik dari dalam(internal) maupun dari luar (eksternal)??.

Mari kita lihat peta kekuatan bangsa Indonesia dalam berbagai perspektif seperti : ideology, politik, ekonomi, social, budaya, pertahanan dan keamanan, serta dalam lingkup wilayah kekuasaan eksekutif, legistatif maupun yudikatif.

I. Perspektif IPOLEKSOSBUD-HANKAM.

a. Ideology

Saat ini ideology Pancasila benar-benar dalam ujian yang cukup berat, dimana pada jaman keterbukaan seperti ini, saat komunikasi melalui hubungan dunia maya antar personal lintas batas wilayah, Negara, bangsa, daerah dan dari berbagai belahan dunia manapun sudah nyaris tanpa barier/batas. Hal ini sangat membuka peluang intervensi penyebaran ideology dari bangsa atau Negara lain menjadi sangat mudah ditempuh.

Perang antar ideology sebenarnya saat ini sedang berjalan lebih dasyat dari perang fisik/militer dengan persenjataan modern sekalipun. Perangkat yang digunakan sangat beragam, dimana perspektif lain ( social dan budaya ) dibuat menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan mesiu-mesiu berhulu ledak lebih dasyat dari ledakan nuklir sekalipun. Kita bisa belajar dari berbagai sejarah perkembangan dunia, ketika ideology komunis diruntuhkan oleh serangan eksport budaya barat yang maha dasyat memasuki wilayah Negara-negara komunisme seperti USSR dan Cina, didukung dengan serangan dari perspektif ekonomi, dimana kondisi ekonomi Negara-negara ber-ideology komunisme saat itu dibuat bangkrut, lalu terjadilah pergolakkan yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan Negara-negara komunisme tersebut, seperti runtuhnya tembok Berlin, pecahnya Negara USSR, bergolaknya gerakan mahasiswa di Cina, dan sebagainya.

Kini ideology kapitalisme dan imperialisme gaya baru sedang merajalela menerobos berbagai Negara dan sendi-sendi kehidupan dunia, dengan di kembangkannya system ekonomi kapitalisme, budaya hutang antar Negara, dan berbagai ideology seperti di kembangkannya perjuangan hak-hak pribadi dengan kemasannya pada Hak Azasi Manusia-nya yang sangat condong pada pemahaman liberalisme. Bukankah pemahaman itu sudah merasuk di tengah-tengah kita ?? yang berideologikan Pancasila ini ?? lalu bergaunglah masalah HAM yang dibuat sedemikian rupa bahkan dijadikan sebagai dewa dalam issue demokrasi.

Pancasila sebagai dasar ideology bangsa Indonesia kini telah menghadapi tantangan yang berat. Ketika paham sama rasa sama rata mulai dihembuskan kembali, yang mengangkat perbedaan jurang pemisah semakin tajam antara kaya dan miskin, pemerintah dan rakyat jelata, majikan dan buruh, dan isu lainnya yang membuat semakin carut marut kondisi social ekonomi. Disamping itu pemahaman tentang perlindungan hak-hak individu diatas kepentingan golongan semakin gencar digembar-gemborkan, sehingga hilang atau terkikisnya semangat gotong royong, setia kawan, rasa saling melindungi, dan lainnya.

Sadarkah kita bahwa musuh telah masuk menggerayangi bangsa ini dengan senjata HAM-nya dan segala perangkatnya ?? lalu kita hanya sebagai penonton menyaksikan pilar-pilar kekuatan itu menggerogoti satu persatu dari berbagai arah mata angin. Seperti digelarnya kasus HAM TIMTIM ?, gugatan terhadap TNI, goncangan terhadap pemerintahan yang tak pernah hentinya ??? ironisnya sebagian di antara kita dengan sangat sadarnya membantu mereka, menjual bangsa dan negaranya demi uang dan kehormatan semu. Pantaskah mereka disebut pahlawan bangsa ??? yang ikut andil menghancurkan bangsanya sendiri melalui kerjasama dengan bangsa lain untuk menyebarkan paham lain selain Pancasila ???.

Paham kapitalisme dan komunisme yang sedang berperang dengan Pancasila ini tak disadari banyak orang. Sehingga ukuran nilai-nilai telah bergeser dari yang dulunya ada tenggang rasa, seimbang, selaras, serasi, saling seia sekata dalam kehidupan bangsa Indonesia yang saling gotong-royong, hormat menghormati, budi pekerti tinggi, kini menjadi individualistis, materialistis.

Segala sesuatu diukur dengan uang, ketidak pedulian terhadap sesama semakin tinggi, dan mendewakan materi menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan kini telah berjangkit penyakit kebencian dari rakyat kecil yang miskin ilmu, miskin harta dan miskin moral akibat dari hasutan orang-orang tertentu (kaya ilmu tapi sesat, kaya harta tapi tamak, kaya moral tapi tidak adil) yang tidak bertanggungjawab demi kepentingan kelompoknya. Sehingga rakyat yang miskin pangkat tiga itu kini mulai gerah dan semakin tak terkendali baik secara emosi maupun ratio. Bagaimana jika mereka akhirnya memutuskan untuk mengikuti hati nuraninya yang terluka dan membuat pengadilan versi sendiri (rakyat), lalu menghancurkan symbol-simbol ketamakan, ketidak adilan dan yang berbahaya memvonis sepihak saudaranya sendiri yang dipandang telah melanggar rasa keadilannya versi sendiri. Bukankah ini ajaran salah satu paham yang sudah jelas-jelas menjadi musuh nomor satu Pancasila ??

Bayangkan ketika dulu kita sangat hormat dengan guru yang hidupnya sederhana bersahaja, tapi kini guru yang sederhana dan bersahaja itu ada yang di hina oleh muridnya sendiri (yang kebetulan orangtuanya kaya raya/mungkin saja kaya dari hasil korupsi !?). Tak ada lagi rasa hormat murid terhadap gurunya yang harusnya di gugu dan di tiru. Oleh karena pengaruh paham kapitalisme yang sudah merasuki kehidupan kita atau sebab lain, maka sebagian besar (terutama diwilayah kota-kota besar) guru akhirnya runtuh ideologinya, lalu menginginkan kehidupan yang layak agar tidak lagi diejek/dihina oleh muridnya sendiri. Akhirnya tanpa sadar sang guru secara sistematis telah meninggalkan tugas mulianya sebagai orang yang membentuk generasi penerus yang ampuh, tangguh dan berwibawa. Dia sudah berorientasi pada materi, berpemahaman bahwa dia sama seperti buruh/pekerja pabrik yang memproduksi barang-barang dari bahan baku/material benda mati belaka, maka tak di sadari-nya telah merendahkan martabatnya sendiri sebagai seorang guru. Oleh sebab itu departemen pendidikan nasional mempunyai tugas sangat berat untuk mengangkat citra komunitas pendidikan kembali seperti dulu dan bahkan harus lebih baik lagi, sehingga perang yang telah ada dihadapan mata itu untuk melawan keserakahan Negara lain dapat kita menangkan, dimana suatu masa kelak memiliki generasi sebagai sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, lalu mengirimkan tenaga ahli di segala bidang kepada Negara lain yang membutuhkan sebagai kebanggaan bangsa, bukan sekedar mengirim tenaga berketrampilan rendah dan menimbulkan masalah yang jauh lebih kompleks di kemudian hari.

Contoh lain ketika seorang pemuka agama tergoda dengan nilai-nilai materialistis, sehingga tergoda pula pada nilai-nilai semu yang berpandangan materialistis itu, dengan tanpa sengaja memposisikan keberadaannya di tengah umat melalui symbol-simbol kemewahan berlebihan yang di milikinya, memang bukan tidak boleh, namun dari segi kepantasan dan kepatutan dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat tidak menggambarkan jati diri sebagai orang yang bukan terkena dampak materialistis. Bukankah agama manapun mengajarkan pada kesahajaan diri untuk menjadi tauladan umatnya ??.

Nilai-nilai dalam sila pertama Pancasila itu seakan hanya sebagai symbol belaka, dimana saat ini orang telah saling menghujat dan tak menghormati kehidupan beragama orang lain, karena mereka melanggar nilai-nilai sila pertama itu. Penyebaran ajaran agama sudah tak mengindahkan norma-norma yang telah disepakati bersama (yang diatur dalam SKB ??) sehingga melukai hati umat lain. Lalu terjadilah penajaman persinggungan antar umat beragama, dan orang-orang mulai meninggalkan ideology pancasila karena dia tak bisa lagi memayungi peri kehidupan bangsanya. Salah satu pertempuran telah melanda kita. Pertempuran dibidang ideology.

Bukankah serangan maha dasyat dari paham lain (selain Pancasila) juga sudah mempengaruhi kita dalam kehidupan sehari-hari ??? dimana tayangan di televisi terutama sinetron-sinetron hiburan lebih condong menggambarkan pemahaman bahwa kemewahan harta akan menjadikan orang terhormat ?? lalu orang terdorong untuk berbuat korupsi dengan sedikit bekerja namun menghasilkan uang banyak meskipun dengan cara yang kotor sekalipun. Para pelaku atau penyelenggara media electronic tersebut belum mempertimbangkan dampak perang ideology ini sebagai bahan pertimbangan dalam bisnisnya, sehingga sadar ataupun tidak mereka sedang menjadi bagian dari musuh-musuh kita untuk turut menghancurkan bangsanya sendiri. Sekali lagi perang ideology sudah terjadi dan semakin gencar. Pembunuhan karakter bangsa sedang berjalan lebih dasyat dari bom atom Nagasaki dan hirosima.

Disisi lain, sudahkah di pertimbangkan penyusunan kurikulum sekolah pada tingkat manapun untuk membangun karakter bangsa berbudi pekerti luhur yang aplikatif dapat di terapkan langsung dalam kehidupan luas ?. Sehingga suatu masa kita memiliki generasi yang mempunyai prinsip-prinsip hidup yang kuat untuk melawan paham-paham lain sebagai musuh itu ?. Hal ini harus dijadikan sebagai strategi defensive terhadap serangan dari ideology lain tersebut.

Ketahanan bangsa dari segi ideology sudah mulai rapuh, dimana tanda-tanda yang bisa kita lihat adalah paham materialistis, konsumeristis, penghormatan hak-hak pribadi yang berlebihan (liberalisme) dan masih banyak lagi yang bisa kita temui di kehidupan masyarakat luas. Seperti tuntutan diperlakukan sama rasa sama rata.

Pancasila yang lahir dari bumi pertiwi dengan berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa itu, kini semakin menghadapi tantangan yang lebih berat melalui pertempuran-pertempuran maha dasyat dengan berbagai ideology bangsa lain di dunia. Suatu ujian yang akan membuktikan daya tahan Pancasila terhadap perubahan zaman yang semakin cepat dan keras. Inikah yang disebut dampak globalisasi dunia ?? mampukah Pancasila bertahan terhadap gejala negative dari adanya globalisasi itu? Sedangkan kepedulian untuk mempertahankan nilai-nilainya saja sudah mulai pudar ?? sebagian orang dibuat secara sistematis untuk alergi terhadap Pancasila melalui cara membenturkannya dengan paham agama yang cenderung radikal, ortodoks, konservatif, dan atau paham kebendaan/materialistis yang berlebihan.

Terpikirkah di benak pelaku negeri ini, bahwa setiap langkah tindak kita untuk menentukan kebijakan, atau menjalankan kebijakan apapun sudah dikaitkan dengan warisan terhadap generasi penerus di masa depan ? apakah dampaknya terhadap mereka jika kita salah mengambil langkah ? akankah dibiarkan saja ideology Pancasila ini hilang di telan zaman ?? . Betapa sedihnya perintis negeri ini (NKRI) jika dijumpai negaranya telah menjadi Negara yang berpaham liberalisme, sekuler dan negara bergelar ideology beraneka ragam lainnya. Hilangnya cirikhas bangsa Indonesia akibat tertelan oleh dasyatnya pengaruh ideology lain.

b. Perspektif Politik dan Ekonomi

Pada perspektif ini sangat terkait dengan proses demokratisasi di negara Indonesia. Dimana penyelenggaraan pemilu yang telah berlangsung sebanyak sembilan kali di negeri ini, hanya menghasilkan carut marut system ber negara dan ber bangsa, Nampaknya tidak ada kesinambungan perbaikan dalam roda pembangunan bangsa. Suatu saat ketika sebuah kelompok politik terancam keberadaannya, ketika itu pula mereka melakukan manuver-menuver politik sehingga dosa-dosa yang telah di perbuatnya seakan lenyap di telan kekacauan situasi dan kondisi bangsa. Kemudian pelaku politiknya sebagian lari menanggalkan bajunya dan mengganti baju politik yang baru. Seakan mahluk tak berdosa dia tampil dengan wajah ber-make up yang baru. Lebih ironisnya lagi, ada yang sebagian orang pelaku politik lainnya tak segan-segan bergandengan tangan dengan Negara lain untuk menggoalkan tujuan politiknya. Mereka melacurkan idealismenya untuk sekedar tampil di panggung politik bangsa ini. Lalu akhirnya menjadi bidak atau pion-pion Negara lain dalam menjalankan misinya.

Perang dibidang politik dan ekonomi sangat jelas nampak ketika ada kepentingan di sektor ekonomi, saat merebaknya kasus BLBI, atau LoI – IMF. Campurtangan lembaga dunia seperti IMF, Bank Dunia, dll, itu menunjukkan betapa dasyatnya Negara lain menggerayangi Negara kita tanpa dapat berbuat apapun. Kasus-kasus HAM yang sangat kuat nuansa politiknya menunjukkan bahwa perang di bidang politik dan ekonomi sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan. Ketika Negara-negara lain secara berjamaah melakukan maneuver politik tingkat dunia memanipulasi keadaan dan memerdekakan Timor-Timur (Timor Leste sekarang).

Di bidang ekonomi ketika terjadinya krisis moneter thn 1997-1998 , melonjaknya kurs rupiah terhadap dolar, dan bangkrutnya para konglomerat Indonesia, sangat erat kaitannya dengan kepentingan Negara adidaya yang bertindak sebagai polisi dunia berupaya menyelamatkan negaranya yang sedang mengalami krisis ekonomi berat, dengan cara mengalihkan krisis ini kepada Negara lain. Kini pemulihan ekonomi di negara kita belum sepenuhnya tercapai, karena peredaran uang yang diatur oleh mekanisme Bank sangat hati-hati, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menjadi lambat. Padahal tingkat pengangguran semakin meningkat, artinya lapangan pekerjaan belum berkembang baik, daya beli masyarakat masih rendah. Di sisi lain produk dari Negara lain datang membanjiri Indonesia dengan harga yang tak mampu di saingi oleh produk-produk dalam negeri. Sector industri menurun daya saingnya sehingga kemampuan untuk berlaga di peperangan bidang ekonomi ini nampak sekali ketidak-siapannya.

Peperangan di sektor ekonomi ini sangat terlihat nyata ketika industri-industri berskala besar seperti industri kimia (pupuk, bahan baku plastic, semen, dll), industri mesin dan logam, misalkan contoh yang nyata ketika rencana akan dibuatnya mobil nasional, motor nasional, dan industri pesawat terbang yang akan mengembangkan pesawat N250 dan pesawat Jet N2130 itu terjerembab karena di serang dari berbagai sector baik ekonomi, politik dan lainnya. Ironisnya serangan dari dalam sendiri demikian hebatnya, ketika agen-agen Negara lain itu menempati posisi penting di pemerintahan. Kebijakan jual asset Negara yang di tujukan untuk menutupi hutang para konglomerat pembobol BLBI, sedangkan pelakunya dibiarkan lepas bebas berlindung di Negara lain yang menjadi musuh kita. Lalu sebagian asset penting milik Negara-pun akhirnya berpindah tangan ke Negara lain.

Strategi defensive yang memungkinkan untuk diterapkan dalam pertempuran sector ini adalah mengkondisikan Negara dan bangsa Indonesia untuk kembali ke konsep berdikari jamannya Bung Karno dulu meskiupun pada era ini hidup tanpa menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak akan semakin mempersulit aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara ditengah-tengah bsemaraknya globalisasi dunia yang melanda. Tentunya dengan beberapa penyesuaian yang selaras dengan perkembangan jaman. Kita harusnya belajar dari kebijakan pemerintahan di Negara Republik Iran pasca kerajaan itu. Dimana mereka survival atas kemampuan sendiri. Dan saat ini mereka menjadi salah satu Negara di kawasan timur tengah yang sangat kuat ekonominya. Karena kebijakan berdikarinya itulah yang membuat ketahanan negaranya tak mudah di tembus Negara lain.

Strategi ofensif yang mungkin diterapkan adalah dengan membangun kekuatan ekonomi kerakyatan/koperasi, sehingga produksi banyak dilakukan oleh rakyat dengan biaya produksi yang relative kecil lalu pemasarannya di kirim keluar negeri dengan pelakunya oleh BUMN-BUMN perdagangan. Hal ini bisa kita ambil contoh Negara Cina, dimana mereka membangun industri berskala besar yang menerapkan sector R&D sampai produksi komponen/spare part, dimana quality control, final assembly serta pemasaran-nya ditanggung/ditangani oleh pemerintah, sedangkan untuk sub assy dan support produksi lainnya diserahkan kepada industri kecil bahkan industri rakyatnya ( sistim maklun ).

Di Indonesia, hasil temuan teknologi tepat guna jangan hanya sampai di lemari file kantor para peneliti yang di gunakan antara lain untuk meningkatkan nilai KUM-nya saja. Alangkah baiknya jika disinergikan dengan pengusaha nasional yang bersedia memproduksi hasil temuan-temuan tersebut, dan untuk membuat komponen-komponen kecilnya di sebarkan lagi kepada home-home industri (pilihan tentunya) yang bisa mempertahankan kualitas.

Sadarkah kita bahwa saat ini telah terjadi pertempuran di segala bidang, dimana bangsa lain sebagai musuh terselubung menggunakan segala macam cara untuk menguasai kondisi politik dan ekonomi bangsa kita ? stabilitas politik dan ekonomi tak lagi di buat kuat dengan merubah nilai-nilai yang berkembang di masyarakat beralih dari nilai luhur budi pekerti, moral yang santun dan lainnya, menjadi nilai materialistis dan konsumeristis. Semua di pandang dengan kebendaan semata. Budaya bangsa ini kemudian berobah, secara pasti sistim ekonomi kita menuju kapitalisme dan liberalisme. Negara kita hanya dijadikan pasar bahkan tempat sampah dari produk-produk yang tak laku di negaranya sendiri.

Secara ekonomi kita hampir mengangkat bendera putih dan menyerah kalah terhadap Negara-negara lain yang ingin merampas kekayaan bangsa Indonesia. Lihat saja meningkatnya hutang Negara dari tahun ke tahun, hampir lumpuhnya kekuatan ekonomi kita oleh permainan spekulan uang dan penyelundupan yang merajalela. Peperangan ekonomi ini semakin dasyat ketika rakyat mulai tercekik oleh mekanisme pasar yang sudah dikendalikan oleh bangsa lain sementara pemerintah tak dapat berbuat apapun jua. Kelumpuhan kekuatan kita bisa dilihat juga dari ratio anggaran belanja Negara yang sepertiganya bahkan hampir mencapai seperempatnya hanya untuk membayar cicilan bunga utang. Lebih ironisnya lagi penggarongan itu dibantu oleh bangsa sendiri yang ikut meraup kekayaan dengan cara yang tidak sah, seperti kasus penggarongan minyak mentah oleh oknom pertamina dan beberapa aparat lainnya. Kerugian yang bisa dihitung saja sudah mencapai 8,8 triliun rupiah. Jumlah yang sangat fantastis. Nilai yang jika dibelikan beras untuk seluruh bangsa Indonesia mungkin bisa menghidupi rakyat selama setahun. Belum lagi dengan illegal loging, dimana oknom yang terkait lebih banyak dan dilakukan dengan kesadaran bersama. Namun kasus ini hanya sampai diujung meja hijau alias raib entah kemana. Betapa dasyatnya akibat yang ditimbulkan oleh ulah oknom yang terlibat illegal loging, seperti terjadinya banjir yang melanda diberbagai daerah, pencurian kayu yang marak, rusaknya eko system hutan yang semakin cepat, dan sebagainya.

Penyelesaian yang sangat tanggung terhadap pelanggaran di sector ekonomi terutama BLBI membuat orang semakin leluasa melakukan penggarongan di segala lapisan.

Sangat mengerikan jika ditelusuri secara seksama terhadap orang-orang yang terlibat persengkongkolan penggarongan harta bangsa dan Negara ini.(wabah korupsi) yang bisa ditemui dari pelosok desa terpencil sekalipun sampai ke sekitar menteri. Dari aparat desa sampai penegak hukumnya sendiri di landa wabah korupsi ini. Mengerikan memang. Hampir tidak ditemui orang-orang yang punya idealisme ( imun dari wabah korupsi ) yang masih bertahan terhadap arus deras wabah korupsi ini. Semua urusan harus dengan duit. Personil yang jujur dan idealis dianggap orang aneh.

Bangsa ini sangat membutuhkan orang-orang yang masih imun, punya idealisme tinggi dan punya semangat juang melawan kebejatan tindakan kejahatan berdasi.

Mungkinkah kita harus menyiapkan satu generasi seperti diharapkan itu ?? yaitu generasi anak-anak kita yang kini masih balita. Diberi bekal ilmu, iman dan ikhtiar yang suci, sehingga mereka siap menggantikan generasi kini yang semakin parah. Pantaslah Tuhan murka kepada bangsa ini yang membiarkan semua itu terjadi tanpa ada yang bisa mencegahnya. Kerusakan ekonomi ini bukan saja hasil dari manufer Negara-negara musuh, namun lebih banyak terjadi karena akumulasi dari sikap tak peduli dengan terjadinya kejahatan disetiap sendi kehidupan, dan semua itu juga dari kesalahan kita sendiri, yaitu membiarkan bangsa sendiri yang menggarong Negaranya berbuat seenaknya dengan cara korupsi. Pantas pula jika hukuman bagi mereka yang terlibat korupsi itu dengan hukuman mati !!! karena dia sudah merusak sendi-sendi ekonomi kehidupan bangsa ini.

Kehidupan Politik di negeri ini sudah diperjual belikan. Sudah menjadi wayang dari bangsa lain tanpa bisa kita mencegahnya. Betapa ironisnya politikus kita yang sedang berperan menggunakan topengnya untuk mengelabui tuannya yaitu rakyat yang telah memilihnya. Menghalalkan segala macam cara untuk memenangkan ambisi politiknya, bahkan meskipun harus membantai bangsanya sendiri. Mereka berdagang politik, mereka menggadaikan idealismenya untuk mempertuankan uang, jabatan, dan kekuasaan. Mereka melindas tuannya sendiri demi eksistensi dirinya.

Manufer Negara lain untuk kepentingan mereka di negeri tercinta ini semakin membuat kondisi semakin parah. Kita harus segera membangunkan siapapun mereka yang sedang tertidur pulas dengan situasi dan kondisi sekarang ini. Bahwa Negara kita sedang mengalami peperangan multidimensi yang semakin dasyat.

c. Perspektif Sosial & Budaya.

Sebagaimana telah di singgung di atas, bahwa nilai-nilai kehidupan bangsa kita sudah bergeser menjadi materialistis, dan bahayanya telah tercipta budaya korupsi yang merambah di setiap lapisan masyarakat.

Pertempuran di sector social budaya ini sangat terasa ketika Badan Sensor Film tak lagi mempunyai idealisme dan nasionalisme sebagai kekuatannya atau dengan kata lain mengalami kesulitan dalam menjalankan perannya. Apalagi di bukanya keran masuk film-film dari Negara barat yang sarat dengan pornografi, kekerasan dan kebejatan moral. Dimana ada film yang di negaranya sendiri dilarang untuk di tayangkan, sedangkan di negara Indonesia malah diperbolehkan. Masuknya miras, narkoba dan tayangan televisi yang tak terkendali mulai menjadi senjata ampuh dari musuh kita untuk menghancurkan generasi penerus bangsa yang menjadi tumpuan. Bahkan di Jawa barat konon sudah banyak terdapat pabrik miras dengan berbagai alasan yang antara lain untuk membuka lapangan kerja bagi rakyatnya. Bukankah meminum khamar itu haram ?? bagaimana dengan yang membuatnya ?? wallohu alam bisawab.

Jika generasi penerusnya sudah rusak atau tepatnya di rusak, maka Negara ini hanya akan menjadi jajahan gaya baru abad dua puluh satu. Dimana penjajahnya tak perlu repot-repot pergi ke Negara jajahannya. Cukup dengan memainkan perannya di berbagai sector, maka Negara jajahannya akan tunduk padanya.

Tanda-tanda mulai adanya serangan dasyat dari musuh kita, ketika moral bangsa ini secara umum mengalami kemunduran, korupsi merajalela, judi, kekerasan, pornografi, dan porno aksi menjadi bagian dari masyarakat kita.

Kehidupan beragama menjadi terusik oleh budaya barat yang nilai-nilainya bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianut sebagian besar rakyat kita.

Bagaimana kehidupan para artis cantik yang menjadi public figure pamer tubuh bicara tentang agama sangat kental, tapi bertingkah-laku jauh dari apa yang dia bicarakan. Menikah dengan pria barat sudah menjadi trend, lalu pergi umroh atau haji kemudian pulang kembali ke habitatnya pamer tubuh. Seakan pergi kesana hanya sekedar shoping.

Strategi defensive menghadapi perang disektor social budaya seperti ini antara lain harusnya datang dari kesadaran bersama seluruh lapisan masyarakat. Departemen social dan departemen kebudayaan harus mempunyai grand strategi menciptakan secara berkesinambungan suatu pelestarian nilai-nilai luhur bangsa untuk menjadi perisai dalam menghadapi gempuran pengaruh social budaya dari Negara lain.

Mari kita bangun kegiatan yang mengarah kepada pembangunan moral purta-putri kita dan menanamkan prinsip-prinsip agama dalam nafas kehidupannya sehari-hari. Biarkanlah generasi sekarang ini sebagian sudah terserang oleh dasyatnya gempuran musuh dari sector social budaya, tapi marilah di upayakan agar generasi penerus kita juga tidak mengalami hal yang sama.

Medan perang utama yaitu dunia telekomunikasi, komunikasi dan publikasi sudah terlanjur di kuasai musuh. Bisakah kita membangun kekuatan baru di sektor ini untuk mempertahankan diri dari serangan musuh yang maha dasyat itu ?? dimana sumber daya manusia yang tersedia dari segi kualitas maupun kuantitas mungkin saja sudah cukup, namun system rekruitmen masih ada unsure kolusi dan nepotisme sempit TST (tahu sama tahu), 3 D (dulur/saudara, dekat, duit), maka mutiara SDM yang kita miliki terpendam oleh Lumpur KOLUSI DAN NEPOTISME.

System pendidikan nasional kita saat ini belum terpadu, meskipun penyelenggaraan ujian telah di selenggarakan secara nasional, namun nampaknya belum ada hasil tindak lanjut dari evaluasi menyeluruh terhadap hasil ujian nasional tersebut. Apakah kualitas antar daerah sudah merata, sejajar atau masih terlalu besar jurang pemisahnya ??? bagaimana kondisi kualitas di pedesaan seperti di Papua bandingkan dengan di pusat kota seperti Jakarta ???

d. Perspektif Pertahanan dan Keamanan

Bahwa pola peperangan yang sekarang terjadi bukanlah dari sector HANKAM seperti perang fisik decade yang lalu, namun rangkaian itu hanya terjadi jika tahapan penguasaan secara fisik di pandang perlu. Kita bisa lihat contoh nyata dari kasus yang terjadi di Negara Irak, dimana tahapannya sangat jelas. Pembentukkan opini dunia melalui perang komunikasi dan publikasi massa demikian strategisnya, sehingga Irak dibentuk citranya sebagai Negara yang sangat berbahaya dan harus dicegah pengaruhnya. Kemudian diciptakan perselisihan dengan Negara tetangganya Iran, Kuwait, dan tentu saja Negara boneka Amerika yaitu Israel.

Lalu tahap berikutnya secara sistematis, kepala negaranya di citrakan sebagai pemimpin yang bengis, dengan gangguan taktis dalam negeri melalui pemberontakan kurdi yang berkepanjangan. Sudah lebih satu dasa warsa tak juga takluk, tak berhasil di kuasai, maka tahap berikutnya adalah penguasaan secara fisik yaitu invasi militer. Hebatnya mereka bisa mengajak Negara lain ikut menjarah dengan alasan mempunyai senjata kimia yang nyatanya terakhir di akui tak pernah ada, tentunya tujuan utama baru bisa kita saksikan karena ingin menguasai harta negara Irak yaitu berupa minyak secara langsung, setelah berbagai cara tak bisa ditempuh.

Mari kita refleksikan ke Negara Indonesia tercinta. Dimana gambaran langkah-langkah seperti kejadian di Negara Irak itu hampir mirip. Serangan demi serangan dalam peperangan di sector social budaya sudah dan sedang berjalan sebagaimana telah sedikit di gambarkan di atas, lalu pada sektor ekonomi ketika tuan Soros beraksi dengan permainan dollarnya. Pembangkangan dalam negeri didanai oleh pihak sekutu mereka seperti; GAM di Aceh, Palu, dan Ambon/maluku dengan RMS-nya. Dan bukan tidak mungkin pemboman yang pernah terjadi sengaja di ciptakan untuk memberikan gambaran atau membuat citra Negara kita sebagai Negara yang perlu dan harus di garap bersama sekutu mereka untuk di – Irak- kan. Maka mereka membantu kelompok radikal atau fanatisme sempit untuk berbuat lebih jauh menyalurkan keinginannya menyebarluaskan pengaruh pahamnya tersebut. Sementara sasaran utamanya adalah menciptakan ketakutan di berbagai kalangan agar orang enggan berinvestasi atau melakukan perjalanan wisata ke Negara Indonesia.

Serangan musuh dari dalam negeri yaitu melalui gerakan taktis yang dibangun dengan membiayai LSM-LSM untuk kepentingan mereka. Dan mencoba mengganggu kesatuan dan persatuan bangsa. Mereka berkonspirasi secara rapih, menggunakan senjata media massa dan alat komunikasi lainnya untuk membentuk pola pikir serta opini masyarakat Indonesia, dan melakukan pembantaian karakter terhadap kelompok yang dipandang masih kuat bertahan membela bangsanya tanpa pamrih, sehingga pada suatu saat nanti ketika mereka beraksi secara fisik (semacam invasi militer) sudah lebih mulus dan masuk ke wilayah kita tanpa hambatan dari rakyat. Ingat ketika Jepang akan melakukan invasi ke daerah Indonesia pada saat periode perang dunia kedua, dimana sebelumnya rakyat di bina agar bersimpati dengan Jepang dan membenci pemerintahan colonial belanda ketika itu. Dan ketika invasi militer Jepang ke wilayah Inodnesia benar-benar dilakukan, maka perlawanan rakyat relative kecil bahkan mendapatkan sambutan.

Hal ini sangat berbahaya, lihat ketika orang di bangkitkan untuk membenci militer (TNI & POLRI) yang notabene adalah perangkat dari kekuatan bangsa Indonesia. Mereka menyerang institusi dari perilaku oknom institusi tersebut. Lalu kesatuan atau korps TNI-POLRI di ganggu untuk saling memusuhi. Belum lagi tuntutan LSM mengenai pelanggaran HAM di Timor Timur, atau di berbagai tempat di tanah air. Kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana oknom-oknom LSM yang menjual bangsanya sendiri demi memperjuangkan materi dan kehormatan sesaat. Dia melupakan kehormatan bangsanya, mencabik-cabik hasil perjuangan para pejuang yang telah merelakan jiwa raganya untuk ibu pertiwi.

Disamping itu sumber kekuatan angkatan perang kita antara lain industri militer, secara bertahap telah dibuat sedemikian rupa sehingga kemampuan dan langkahnya menurun serta terbatas. Bantuan keuangan untuk menghidupkan industri militer di kurangi bahkan di tiadakan. Contohnya ketika gonjang ganjing industri pesawat terbang satu-satunya di Republik ini mengalami krisis berkepanjangan, kemampuan membuat, atau minimal merawat peralatan perangnya menurun sangat drastis. Ironisnya timbul pemikiran dari salah satu pejabat pemerintahan (menteri BUMN saat itu) agar industri ini di jual saja. Seorang ekonom yang tidak berfikir jangka panjang. Katanya dengan ringan, buat apa kita bikin pesawat terbang, kalau kita bisa beli ??. konsekuensinya dari hanya bisa membeli dan tak bisa bikin adalah ketergantungan kepada penjual atau negara penjualnya semakin tinggi. Lihat pesawat tempur kita sebagian besar tak mampu mengerahkan kehandalannya secara optimal, karena sebagian suku candangnya di embargo oleh Negara pembuatnya. Andaikan kita telah siap menguasai teknologi kedirgantaraan itu secara kaffah (menyeluruh) maka kesulitan seperti itu tidak akan terjadi.

Kekuatan atau kemampuan alat transportasi sangat lemah, dimana perangkat transportasi yang kita miliki sangat minim dibandingkan dengan luas wilayah yang harus di jaga dan di layani.

Bayangkan mobilisasi saat terjadinya bencana alam di Sumatera, dimana sikap tanggap dari kekuatan kita ternyata lebih lambat sekitar 24 jam dibandingkan dengan gerakan dari pihak asing.

KOHERENSI PERMASALAHAN ANTAR BERBAGAI PERSPEKTIF

Kompleksitas permasalahan yang timbul akan membuat peta kekuatan menjadi semakin rapuh. Kita bisa tinjau dari berbagai aspek. Misalnya pada sumbu vertical kekuasaan pemerintahan, dimana kewenangan pusat dan daerah sedang di tata dan di klasifikasi wilayahnya. Pada saat itu akan timbul masalah pengambilan keputusan yang seharusnya bisa cepat dilakukan oleh pusat, maka ketika kewenangan itu beralih kepada daerah setempat akan timbul birokrasi baru.

Hal ini akan mengganggu pergerakan kegiatan ekonomi, antara lain ketika calon investor yang akan mengembangkan usahanya di daerah tersebut mengalami birokrasi yang panjang dan mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar. Ditambah lagi dengan melemahnya daya beli masyarakat, ketersediaan tenaga kerja trampil yang belum siap kerja yang di kontribusikan dari suatu system pendidikan nasional, biaya keamanan yang timbul karena adanya system keamanan yang berlapis bahkan di beberapa tempat sangat berlebihan, belum lagi dengan adanya pungutan liar, dan sebagainya.

Pada sumbu horizontal pemerintahan, adanya benturan kepentingan antar daerah yang berdampingan terhadap suatu wilayah subur / makmur bagi pemasukan daerahnya. Maka di tempat tersebut potensial untuk munculnya konflik antar daerah yang semakin tinggi. Hal ini justru akan turut memperlemah kekuatan bangsa secara menyeluruh.

Permasalahan ekonomi yang di tandai oleh kasus besar BLBI berkaitan erat dengan masalah moral bangsa. Betapa kita dapat saksikan korupsi di lingkungan pengusaha nasional dan pemilik modal yang demikian dasyatnya, hal ini berkaitan dengan pembuat peraturan (legislative) yang juga terkena imbasnya, dimana sering kita dengar issue tarif untuk menggoalkan pasal-pasal yang krusial dapat mengamankan gerak langkah para koruptor di lingkungan pengusaha nasional. Belum lagi permainan mereka di lingkungan yudikatif, ketika mereka di duga terlibat tindakan korupsi, kasusnya di-peti es-kan atau lebih populernya lagi di SP3-kan. Korupsi tersebut terkait pula dengan lingkungan pemerintahan (eksekutif) ketika mereka berlomba mendapatkan tender lalu dimainkanlah babak hubungan pengusaha VS pemerintah, maka jadilah korupsi secara kolektif. Lebih dasyatnya lagi jika sudah melibatkan ulama, maka pantaslah Tuhan menurunkan peringatannya untuk kita semua. Bagi pelaku peristiwa suatu kejadian alam sebagai peringatan Tuhan itu menjadi laknat namanya, namun bagi mereka yang menyaksikan perbuatan itu tapi tak berbuat apa-apa karena tak kuasa, maka peringatan itu menjadi ujian atau cobaan Tuhan, dan bagi mereka yang sudah berusaha menghindar namun tak kuasa maka hal itu menjadi musibah dari Tuhan.

Ingatlah bagi siapa saja yang terlibat dalam konspirasi korupsi nasional, suatu masa akan mengalami fitrah, bahwa siapa yang menanam dia yang akan memetik hasilnya, siapa berbuat dialah yang akan mendapatkan balasannya. Karena semua perbuatan itu akan kembali kepada pemiliknya.

Begitu dasyatnya pengaruh atau dampak dari suatu kesalahan kebijakan yang telah diambil dalam periode kepemerintahan lalu, ketika budaya Posyandu dan kegiatan ibu-ibu PKK dikurangi porsinya bahkan di tiadakan. Dimana saat ini berita hangat tentang anak-anak yang kekurangan gizi menghiasi berbagai media masa. Atau Departemen Penerangan yang dihapus di tengah kancah perang komunikasi dan informasi ini. Maka kehancuran itu sudah nampak jelas di hadapan kita., kesalahpahaman antar masyarakat dengan pemerintah semakin ramai akibat dari informasi yang tidak sampai atau cacat makna atas pesan yang disampaikan terjadi di mana-mana. Kesemrawutan koordinasi antar daerah semakin meningkat ketika otonomi daerah diberlakukan namun perangkat petunjuk pelaksanaan di lapangan belum bisa memback-up prosesnya. Ironisnya pelaku sejarah pemerintahan yang sudah lengser mengkritik sendiri kebijakan yang pernah dibuatnya, namun ditujukan kepada penerima estafet kepemimpinan nasional saat ini. Adilkah semua ini untuk berbagai kejadian yang pernah diputuskan olehnya namun di timpakan kepada orang lain ?? bijakkah tindakan itu hanya untuk membersihkan diri sendiri ??

Gerakan reformasi yang pernah di cetuskan tak dapat dimaknai oleh kita sebagai niatan untuk memperbaiki diri, karena pelaku atau pemerannya masih dikuasai oleh orang-orang yang seharusnya bagian dari yang di bersihkan. Reformasi total harus dilakukan jika Negara ini akan membangun kekuatan atau ketahanan nasionalnya.

Decade dasa warsa ini mungkin saja merupakan periode dimana Tuhan akan membuka langsung kedok manusia yang terus dengan sadar berbuat aib, melakukan korupsi secara sadar. Apa lagi bagi mereka yang pernah teriak maling dengan nyaring, tapi sebenarnya dia sendiri maling, maka tunggulah saatnya Tuhan akan menunjukkan untuk dirinya bagaimana jati diri sebenarnya apalagi jika yang bersangkutan tak pernah bertobat. Seperti peristiwa memalukan akhir-akhir ini yang melanda beberapa tokoh pengamat korupsi dan pejuang kebenaran dan hukum.

Dikaitkan dengan ditunjuknya Negara kita sebagai penyelenggara KTT Negara-negara Non Blok, maka suatu peluang untuk menjalin lebih erat dengan Negara-neraga senasib dan setara dalam berbagai bidang membangun serta meningkatkan kekuatan lain yang dapat dijadikan pertahanan dan ketahanan masing-masing dalam menghadapi gelombang serangan kapilatisme dan liberalisme. Jangan sampai hanya menjadi seremonial belaka dan tak menimbulkan efek bola salju peningkatan kekuatan sebagaimana di cita-citakan oleh pencetus gagasan Negara-negara nonblok dulu. Sehingga posisi tawar kita dalam melakukan perannya di tengah-tengah bangsa lain semakin kuat.

Masih banyak peristiwa yang bisa diamati secara komprehensif, namun karena keterbatasan kita akhiri saja dengan suatu pernyataan ; bahwa kita benahi diri masing-masing dengan berbuat baik, mulai dari diri sendiri, saat ini, dan dari hal yang terkecil.

Kekuatan bangsa ini benar-benar dalam ujian yang maha dasyat, diperlukan pejuang bangsa terutama dari generasi muda yang menyadari betul, bahwa kita dalam keadaan peperangan gaya baru. Perang pemikiran, perang moral, perang dalam tiga dimensi kehidupan. Siapa yang lengah, maka dialah yang terjajah.

Bersediakah kita menjadi bangsa yang terjajah kembali ? setelah lebih dari 3,5 abad dijajah bangsa lain ?? Oleh sebab itu berjuanglah dibidang masing-masing.

HARAPAN BAGI PERANNYA PUTRA PUTRI PEJUANG

Semangat nilai-nilai juang 45 seakan sudah mulai luntur. Dimana kita sebagai pewaris langsung dari nilai-nilai itu seakan sudah mulai berkurang peranannya di medan tempur perjuangan nasional. Tak lagi nampak tokoh-tokoh dari putra-putri veteran yang berperan secara aktive dikancah nasional. Atau sibuk dengan urusannya sendiri ?. terbukti kita masih belum dapat berkonsolidasi secara bertingkat, baik mulai di lingkungan kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten bahkan sampai pada tingkat propinsi. Para mantan aktivis seakan sudah tak lagi peduli, masing-masing membuat kelompoknya sendiri-sendiri, dan asik memanfaatkan nama besar Pancamarga untuk kepentingan kelompok bahkan pribadi. Lalu bagaimana nasib rekan-rekan kita yang sangat perlu bantuan. Para orangtua mereka sudah tak mampu lagi menuntun, bahkan harusnya kita generasi penerus ini yang bisa memberikan kebahagiaan bagi masa tuanya.

Perjuangan memang belum selesai. Minimal kita dihadapkan kepada tiga hal utama musuh kita. Yaitu kebodohan, kemiskinan, dan kebobrokan moral bangsa.

Bagaimana kita akan mulai ? ketika di lingkungan internal sendiri masih banyak rekan-rekan kita yang terhambat keinginannya untuk bersekolah, karena keterbatasan biaya. Atau keterbatasan ilmu, modal, dan kesempatan untuk memulai usahanya maupun ketakberdayaannya untuk melawan pengaruh lingkungan yang semakin merajalela sampai kepelosok-pelosok desa akibat dari pengaruh globalisasi informasi yang memberi dampak langsung kepada kehidupan masyarakat Indonesia secara langsung.

Bersambung ………



LINTASAN KASIH DI – AMBOINA
Juni 10, 2008, 2:37 am
Filed under: Pandangan | Tag:

Pagi yang dingin diselimuti kabut tebal. Daun-daun basah dan memantulkan pernik-pernik sinar lampu jalan dari tetesan air yang menggenang dipermukaan-nya. Suara jengkrik bersautan dengan suara kodok. Betapa indahnya suasana hening seperti ini.

Dyto melangkah perlahan menyusuri jalan yang basah, menghayati perjalanannya, menelusuri jejak-jejak dulu. Jalan yang selalu dilewatinya, seperti tak pernah ada perubahan. Tenang, damai, sepi, meski deretan pohon mahoni semakin rindang dan memayungi jalan itu, tapi dia tahu persis tidak ada yang berubah disana. Rumah-rumah yang berjejer rapih ditepi jalan itu, masih seperti dulu, bentuknya yang besar dan hampir seragam namun menunjukkan kesahajaan.

Dia hapal betul situasi seperti ini. Rumah yang akan dituju sudah dekat, kira-kira dua blok lagi, tepatnya satu rumah sebelum ditikungan jalan itu. Pepohonan buah mangga, bunga-bunga mawar, melati, bahkan bougenville, telah nampak dari kejauhan. Disana banyak kenangan yang telah diukirnya. Disana dia pernah ikut menanam salah satu pohon yang tumbuh subur. Disana dia pernah mendapatkan nilai-nilai persahabatan yang tulus, disana dia pernah merasa kehilangan, dari sana pula dia mengukir perjalanan hidupnya seperti sekarang ini. Meskipun orangtuanya cukup kaya dikota ini, mobil tersedia, motor tersedia, namun dia memilih berjalan kaki saja. Dia ingin menikmati masa-masa lalu yang tak bisa kembali, dia ingin merasakannya, sekali saja.

Tak terasa kepergiannya sudah mencapai empat tahun lamanya, selama itu dia hanya mendapatkan cerita-cerita yang disampaikan adiknya, atau dari teman-teman yang setia menghibur, atau surat-surat dari sahabatnya yang menceritakan segala sesuatu yang bisa dilihat oleh mereka.

Hari ini, yeah… hari ini dia ingin membuktikan sendiri bagaimana cerita-cerita yang selama ini disampaikan kepadanya. Dipilihnya waktu subuh setelah sholat di masjid Al Fatah, masjid kebanggaan masyarakat muslim di kota Amboina ini. Dari rumah itu pula dia banyak diperkenalkan dengan kehidupan religius, berupa kegiatan-kegiatan di-masjid, atau kegiatan islami lainnya. Namun dari rumah itu pula dia pernah membawa hati yang hancur luluh.

Sekarang ingin dia buktikan sendiri apa yang telah disampaikan kepadanya.

Bahwa Rosda selalu menyiram bunga-bunga di halaman pada subuh hari, lalu berlama-lama memandang halaman yang penuh pepohonan sambil duduk diteras rumah, kadang bercanda dengan bocah kecil yang berlarian sambil sesekali berteriak. Benarkah Rosda sering menyendiri, benarkah dia sudah menarik diri dari pergaulan dengan teman-teman dulu, benarkah pancaran kecantikannya telah berkurang, tidak seperti dulu lagi ceria, periang, murah senyum dan desahan tawa yang renyah. Jika semua itu benar adanya, betapa dahsyatnya goncangan jiwa akibat peristiwa yang pernah dialami, betapa dalamnya membekas pada hari-hari yang dilalui.

Tanpa terasa langkah Dyto terhenti didekat batang pohon mahoni yang besar dipinggir jalan seberang rumah Rosda. Dia tertegun dengan pemandangan yang dilihatnya. Sepagi ini, dimana lembayung masih jauh diujung pegunungan sana, suara kicauan burung masih belum ramai, hanya sesekali sahutan ayam yang berkokok dikejauhan. Benarkah dia ?….. gadis yang pernah mengukir kisah sejarah dalam perjalanan hidupnya !!

Gadis dengan tubuh tinggi semampai, kulit kuning langsat, rambut tergerai panjang sebatas pinggang, raut wajah tirus lembut hampir sempurna simetris, alis mata tebal memanjang melindungi bulu mata yang lentik. Duduk diam seribu-basa dikursi teras rumah dengan lampu yang temaram, memandang kosong lurus ke-taman dihalaman rumahnya. Terasa goresan sembilu meresat dihati Dyto bagaikan sambaran kilat, perih pedih. Pemandangan yang tak sanggup diteruskannya, namun dia ingin membuktikan lebih jauh lagi tentang semua yang pernah didengarnya. Sambil bersenderan dibatang pohon Mahoni, kaki kirinya diangkat bertopang pada pohon mahoni dia menghirup udara segar pagi subuh itu dengan beratnya. Inikah kenyataan yang dialaminya ??? inikah perjalanan yang harus ditempuh, lalu dibiarkan berlalu begitu saja ???. betapa nestapa yang panjang telah menerpanya tanpa dapat dihindari. Dia masih seperti dulu, cantik. Namun benar adanya pancaran keceriaan gadis remaja sudah berkurang. Dari kejauhan Dyto merasakan kemuraman itu. Haruskah aku melangkahkan kakiku untuk menujunya ??? dan memeluk erat membagi duka nestapa, membagi perih derita yang dialaminya, sedangkan aku telah berjanji untuk melupakan semua itu ??? demikian jerit pilu dihati Dyto.

Rosda merasakan hari ini ada sesuatu yang lain, suasana yang pernah dirasakan lima- enam tahun lalu. Pagi yang nyaman, pagi saat menunggu seseorang dan teman lainnya untuk berolah raga, jalan kaki berkeliling kota Ambon yang sejuk. Pagi yang …..ach. terasa ada penantian , harapan, kecemasan, impian dan………………yeah, kedatangan seseorang yang hampir sekian lamanya tak dapat dihapuskan dalam benak dan kehidupannya. Aneh memang, mungkinkah dia kembali lagi setelah sekian lama dia kecewakan, setelah saat itu terjadi….. setelah ….. Rosda mengusap air matanya yang begitu saja mengalir deras dipipinya. Ya… Alloh, ampunkan hamba ini. Ampunkan kesalahan hamba yang tak dapat dihapus begitu saja. Seperti terhapusnya air mata ini. Entah mengapa tiba-tiba Rosda mengingat sesuatu yang ingin dilupakannya, mengingat tentang seseorang, sedangkan kini dia telah berkeluarga, dan telah lama dirinya menderita karena semua kisah itu.

Dyto tertegun melihat dari jauh di-ujung jalan tempat dia berdiri, bagaimana Rosda berulang kali menyeka pipinya. Bagaikan dentuman meriam menggema didadanya, degupan jantungnya berpacu cepat. Sudah sejauh inikah penderitaan yang ia alami ??? tidak bisakah panjangnya perjalanan waktu yang empat tahun ini merubah segalanya ???? lalu mengapa orang-orang disekelilingnya tidak berdaya untuk mengembalikan keceriaannya. Astagfirullah ……. Apakah dirinya juga merupakan bagian yang mendorong dia menjadi begitu ???!!! Padahal tidak terlintas sedikitpun dalam pikiran Dyto untuk melukainya. Seharusnya!! Dirinya-lah yang bisa menjadi seperti itu, bukan dia, bukan…bukan !!!

Betapa ironisnya hal ini terjadi pada diri-nya dan Rosda, sedangkan kami sama-sama menjadi korban perbuatan orang yang ……… ach, sudahlah.

Disana, di rumah itu, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang anak dengan lincahnya berlari sambil membawa bola kecil berwarna-warni.

“ Mama,…… aya punya bola, nih !!!” teriak sang anak sambil melemparkan bola kearah ibunya yang masih duduk di teras dengan diam yang memprihatinkan, tanpa ekspresi sedikitpun. Rosda memungut bola yang bergulir jatuh menjauhi tempat duduknya dengan gerakan yang lambat, bibirnya tertarik sedikit tanpa senyum.

“ Maa…. Ayo, kita main,yaa…” teriak sang anak lagi. Rosda bereaksi dengan gerakan yang lamban. Dia berdiri dan menghampiri sang anak sambil merentangkan tangannya. Rosda !!! begitukah hari-harimu…??? Dimana sang suami yang membuat kita jadi terpisah seperti ini ??? engkau disana dan aku berdiri terpaku disini tanpa bisa berbuat banyak. Dimana suamimu Rosda ?!, yang dulu dengan segala macam cara telah berbuat aniaya terhadap kita dan teman-teman. Sampai saat ini teman-teman masih saja menyampaikan simpatinya kepada kita, melalui surat-surat yang mereka kirimkan kepadaku, berita penting melalui telpon, atau kiriman kaset rekaman canda mereka seperti dulu pernah kita lakukan. Mereka selalu menceritakan tentang perkembanganmu, apapun yang mereka ketahui selalu sampai padaku yang jauh dirantau. Mulanya aku sangat terhibur dengan berita yang mereka sampaikan, namun apabila kepedihan-kepedihanmu menjadi topik cerita mereka, kepedihan itupun merambah pelan dalam hatiku. Rosda. Segeitu parahkah perjalanan yang telah kau tempuh, tanpa bisa kau jadikan terang kembali jalan hidupmu ???.

Dyto terbangun dari keterpanaannya, ketika terpaan angin pagi itu menyadarkan dirinya yang sedang bersandar pada batang pohon mahoni. Perlahan dia berjalan meninggalkan tempat itu, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana, langkahnya gontai, perlahan sambil sepatunya menyibakkan dedaunan yang terhampar di sepanjang jalan. Dia tidak lagi menikmati kicau burung-burung yang ramai di pucuk-pucuk pohon, atau suara bel beca yang menegurnya di belakang. Pikirannya melayang pada pemandangan yang baru saja dilihatnya. Seorang wanita yang dulu pernah menorehkan berbagai kenangan manis sekaligus berakhir pahit dalam perjalanan hidupnya di masa remaja. Seseorang yang pernah menjadi bintang diantara gadis-gadis kotanya. Paras cantik, penuh senyum, ramah, pandai bergaul, dan senang membantu sesama teman. Akupun tertarik padanya karena dia memiliki sesuatu yang diriku tidak memilikinya, bisik Dyto sepanjang jalan itu. Dia tidak dapat membayangkan betapa kecewa rekan-rekannya mendengar kehadiran dirinya di kota kenangan ini, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Rosda kaget ketika sepintas dia menoleh kejalan saat mengangkat putranya dalam gendongan. Pejalan kaki yang mirip dengan seseorang, pria bertubuh atletis, rambut yang dipotong pendek, langkahnya, gerakkannya, cara berjalannya, cara menoleh ketika ada sebuah beca yang akan lewat darinya, yeah….. dia mirip sekali dengan seorang pria yang dulu pernah mengukir kisah indah masa remajanya, dia mirip sekali. Mungkinkan dia Dyto yang sepanjang waktu masih ada di dalam hatinya….?? Benarkah dia kembali kekota ini ??? yang pernah merusak perjalanan masa remajanya ??? yang menghancurkan cita-citanya…. Yang…. Ach, Dyto…dytoooo, dyyyyytoooooooo. Teriaknya dalam hati.

Untuk meyakinkan dirinya dia bergegas berlari pendek menuju pintu pagar rumahnya, berusaha mendekat kejalan. Yeah…itu dia!! aku kenal sekali dengan cara berjalannya. Aku kenal betul dia, tapi mungkinkah dia kembali ….?? setelah semuanya seperti ini ?? Mungkinkah cintaku kembali ???.

Apakah luka hatinya sudah pulih, atau adakah orang yang mirip dengan Dyto….. Rosda berharap pria itu memalingkan wajahnya kebelakang sejenak saja. Dia ingin memastikan bahwa penglihatannya memang benar adanya !? dia ingin sekali hal ini bukan fatamorgana kenangannya berjumpa dengan pria yang pernah mengukir kisah indah masa remaja dulu. Tapi harapan itu lenyap sudah, pria itu berjalan tanpa menengok kiri,kanan atau kebelakang. Dia berjalan perlahan namun mantap. Seperti dyto yang pernah dikenalnya dulu. Pria yang jika berjalan tidak pernah menengok kiri, kanan, tidak pernah berhenti dijalan sembarangan. Pria yang bertubuh tegap, tatapan matanya yang tajam namun penuh kesejukan, pendiam, tenang dan hanya tersenyum sesekali. Berhati lembut penuh pengertian. Penyabar….dan…ach, tanpa terasa airmatanya menggenang diujung kelopak mata.

Rosda bergegas masuk kerumah sambil menggendong putranya yang diam menatapnya tak mengerti. Diletakkan putranya di kursi ruangan tamu. Dia menuju kepojok ruangan tempat telpon. Langsung di putarnya nomor telpon Hilda, sobat karipnya.

“ Hallo, Hil..!!” Sapanya ketika diujung sana diangkat.

“ Hai, Ros…. Tumben, kok pagi begini sudah mau curhat ?? ada apa sih ??” Jawab Hilda heran.

“ Ah, aku mau tanya apakah Dyto sudah pulang yeah….” Tanya Rosda tak sabar.

“ Dyto,….???” Tanya Hilda terhenyak kaget dan bertambah heran.

“ Kamu gimana sih ??? kok aneh pertanyaannya…??” Sambung Hilda lagi.

“ Aku tadi pagi melihat dia lewat di depan rumah Hil.!!” Jelas Rosda.

“ Ah, kamu mulai ngaco lagi deh ??” Sambar Hilda sambil bertanya dalam hati. Apakah benar dyto sudah kembali ??. Masa dia tidak bilang dulu sama kami teman baiknya ?? atau mau bikin kejutan ?? ah, mungkin saja.

“ Ros,….Rosda. dengarkan dulu penjelasan kami” panggil Hilda.

“ sungguh lho, kami tidak tahu tentang dia !!” seru Hilda lagi, namun disisi sana terdengar gagang telpon diletakkan.

Rosda galau hatinya, rasanya ada kontak batin yang kuat, bahwa lelaki yang baru saja di lihatnya adalah dia yang selama ini selalu menjadi tokoh dalam imajinasinya saat berada dalam kesendiriannya. Dia gamang, resah, gelisah dan ingin secepatnya pergi ketempat yang disukainya untuk menyendiri. Biasanya Rosda pergi ke-tepi pantai Waihaong dekat rumahnya. Di tempat inilah dia bisa betah berjam-jam lamanya, memandang laut lepas, menikmati camar yang terbang, atau layar perahu yang terkembang berliuk-liuk di permukaan laut. Sambil berdialog dengan dirinya sendiri tentang segala sesuatu yang dia rasakan dan pikirkan. Hari ini, misalnya. Dia ingin bicara dengan laut yang selalu setia mendengarkan pengaduannya, tentang pagi tadi dia berjumpa dengan seorang pria yang wajahnya mirip dengan seseorang yang dulu pernah dekat dengannya.

Angin laut menerpa wajahnya yang halus putih bersih, sesekali rambutnya tergerai dimainkan angin, rambut yang panjang hampir sebatas pinggang itu menari-nari lepas, seperti lepasnya hati Rosda membayangkan pertemuannya dengan pemuda yang pernah singgah dulu. Dia mulai menarik cakrawala ingatannya kebelakang, saat dirinya berkembang remaja. Dibayangkannya semua kenangan manis itu sambil menatap jauh diujung seberang lautan sana. Masa yang sangat indah baginya.

PERJUMPAAN

Siang itu dibawah pohon mahoni yang rindang di tepi jalan tanah lapang kecil, Rosda dan kawan-kawannya sedang menunggu mobil angkutan kota pulang dari sekolah. Seperti biasanya murid-murid SMKK (sekolah menengah kejuruan keputrian) Negeri , satu-satunya sekolah kejuruan putri di kota Ambon berbondong-bondong berjalan beriringan keluar dari pintu sekolah, dengan tawa ceria gadis-gadis remaja, sambil bercanda, bercerita dan bergurau dengan gurauan remajanya.

Gadis-gadis cantik jurusan Tata Busana kelas tiga dimana termasuk Rosda dan kawan-kawannya yang sedang menunggu angkot itu mulai riuh, ketika di ujung jalan sana dari arah jalan batu gantung serombongan sepeda motor, sepeda kayuh dan mobil-mobil beriringan, baru saja turun dari arah jalan kuda mati, dimana Dyto dan kawan-kawan bersekolah di-STMN I (Sekolah Teknologi Menengah Negeri I) Ambon. Sekolah teknik terbesar, terlengkap dan terbaik di-Maluku. Dyto dan kawan-kawan saat itu sedang melintas di-Jalan Tanah Lapang Kecil dengan ber-sepeda ria, sepeda yang dimodifikasi dengan dekorasi yang antik menarik perhatian orang. Sambil bercanda mereka mengayuh sepeda dan tiba-tiba Doni berteriak :

“ Ssssttttt, awas ada rombongan bidadari sedang mencari selendang yang hilang “

“ Dimana, Don.??? “ tanya Deni bereaksi cepat sambil mencari pemandangan menarik.

Dyto tersenyum melihat perobahan sikap kawan-kawannya ketika rombongan mereka semakin dekat dengan rombongan remaja putri yang bergerombol dibawah pohon mahoni itu. Rombongan sepeda itu mulai berjejer rapih berpasangan dua-dua dan membuat deretan panjang sambil membunyikan bel sepeda masing-masing.

“ kawan-kawan, ada rombongan bidadari sedang mencari selendang yang hilang oiii “ teriak Bondan sambil melirik kumpulan gadis-gadis itu.

“ Yeah, selendang putri si rambut panjang ada di tas-nya Dyto…..hahahahaaaa” sambut Deni.

“ Putri yang mana eiiii…..” tanya doni memancing.

“ itu-tuh, yang rambut panjang……” jawab Deni.

“ Tuangana eeee……seng tau maluuuu jua “ (Hoi, nggak tahu malu kalian nih) Sahut Nita yang tidak sabar membalas.

“ Iyooo ehh, seng ada muka laii” (iya nih, nggak punya muka lagi deh/nggak tahu malu lagi). Sambung Mona si hitam manis berambut keriting halus itu.

“ Eeehhh, beta pung muka ada di tas nona yang hitam manis ka.. senggg….” (eh, muka saya ada di tasnya gadis yang hitam manis nggak yeah ??”) tanya Roni yang ada hampir di deretan belakang rombongan pemuda STM itu. Namun tiba-tiba punggung Roni disambar ransel Mona yang membuatnya kaget dan menabrak sepeda Candra yang ada di depannya. Para gadis tertawa sambil saling melontarkan ledekan celetukan khas remaja.

Rombongan sepeda pemuda STMN I menepi kepinggir jalan dan membantu kawan-kawannya yang terjatuh tersebut. Doni mengambil inisiative menghampiri kelompok gadis SMKK Negeri itu sambil mengulurkan tangannya kepada Mona yang ketakutan bersembunyi dibalik Hilda dan Rosda. Namun datang Deni dengan raut muka yang ditekuk marah sambil mengepalkan tangannya dan membentak.

“ Seng tahu katong (kita) heh !! seng ada kamong pung nene moyang yang berani deng beta heeee (nggak tahu kita yah!! tidak ada nenek moyang kalian yang berani dengan saya lho) !!!“ sambil menghentak-hentakkan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kirinya, dan mata yang dikeluarkan seperti bola kelereng. Kelompok remaja putri itu mundur perlahan dan mulai merasa ngeri sendiri, terutama Mona yang bersembunyi dibalik Rosda dan Hilda. Dalam hati Deni tertawa geli melihat tingkah laku para remaja putri ini. Kakinya dihentakkan ketanah dan berteriak garang ;

“ Sapa brani ganggu katong pung jalan heh!! Heehhh !!! “ (siap yang berani menggangu jalannya kita hah!!) Bentak Deni.

“ Beta(Saya) !! See mo apa Hahhhh (kamu mau apa hah)!! “ Jawab Hilda tak gentar dengan gertakan Deni, dia melihat ada sorotan mata yang tidak serius dari Deni dengan tindakannya. Diberanikan dirinya sambil berkacak pinggang dan maju selangkah kedepan hampir menyentuh Deni yang sedang berjalan menuju dirinya. Kawan-kawan Hilda terperanjat dengan keberaniannya menggertak balik, mereka mulai maju sambil mengencangkan kulit wajah dibuat seseram mungkin. Deni dan kawan-kawan kaget dengan reaksi balik yang tiba-tiba ini. Dyto berinisiatif maju dan mengulurkan tangannya kepada Rosda yang berdiri dihadapannya. Dia pikir gadis ini lembut, manis dan pasti mau mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan darinya. Seperti dihipnotis Rosda dengan setengah sadar mengulurkan tangannya dan menyunggingkan sedikit senyum ragu-ragu. Dia pikir pemuda ini boleh juga, wajahnya bersih, sorotan matanya teduh tapi tegas, dan nampak tidak segarang teman-teman lainnya, meskipun badannya tegap atletis, namun cara berpakaiannya menunjukkan kerapihan.

“ Maaf yeah…. Kami sudah membuat kalian takut !!?? “ Dyto membuka percakapan sambil menggenggam tangan Rosda yang lembut bagai sutra, dan terasa sejuk dingin, sesejuk orangnya. Betapa bahagianya pemuda yang menjadi kekasihnya kelak. Bisikan hati Dyto berlomba kencang dengan degupan jantung yang tiba-tiba bergetar kencang. Ada aliran listrik yang mengalir deras dari lembut tangannya, ada sesuatu yang membuat dirinya terpana demikian dasyat, sehingga mereka berdua tak menyadari seluruh pasang mata menatapnya tertegun, heran dan …..

“ Hei, enak saja…….kalian !! “ Hilda menghempaskan tangan yang sedang berjabatan itu sambil melirik Dyto yang kaget dan wajahnya menjadi merah jambu karena malu. Hilda menyadari bahwa pemuda yang ada dihadapnya ini ganteng, atletis, sedikit pemalu mungkin. Namun menutupi rasa ini dia menyodorkan tangannya juga kepada Dyto.

“ Gantian donk ?? “ sambungnya sambil melirik Rosda yang tersenyum menyambutnya. Ketegangan diantara mereka mencair begitu saja dan masing-masing mengulurkan tangan, berjabat tangan, berkenalan dan saling menyebut nama. Kelompok pemuda itu riuh menuju sepeda masing-masing dan bersiap melanjutkan perjalanan. Mona menghampiri Deni dan berbisik pelan ‘

“ lain kali matanya dikeluarkan sekalian yeah,….” Deni tersenyum sambil melambaikan tangannya. Roni mendekati Mona dan berbisik padanya,

“ Mona, boleh nggak beta (saya) minta nomor telpon ose (kamu). “ sambil bersiap-siap di sepedanya.

“ ouh, boleh saaa (saja), tapi nanti saaa… “ goda Mona, sambil melihat reaksi Roni.

“ Yeah, kalo Ose seng mau, seng apa-apa laiii

( yeah, kalau kamu nggak mau nggak apa-apa kok) “ goda Roni.

Rombongan pemuda itu berlalu dan riuh diperjalanan pulang. Masing-masing dengan terbuka menunjukkan bahwa mereka naksir salah satu gadis kelompok siswi SMKK tersebut.



Hello world!
Juni 10, 2008, 2:24 am
Filed under: Pandangan

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.