Eddybudianto’s Weblog


INDUSTRI STRATEGIS INDONESIA
Juni 18, 2008, 5:23 am
Filed under: PEMIKIRAN BARU | Tag:

Pendahuluan.

Bahwa negara Republik Indonesia yang telah mencapai usia lebih dari setengah abad, saat ini memasuki masa penting sebagai suatu bangsa di tengah-tengah bangsa lain di dunia. Berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa dan memiliki 17.000 pulau, dengan posisi strategis di tengah garis katulistiwa sepanjang kurang lebih seperdelapan lingkaran bumi, terapit dua samudra dan dua benua. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari lautan. Dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai untuk membangun kawasan nusantara ini.

Dalam rangka mendukung kepentingan nasional untuk memperkuat ketahanan dan pertahanan negara Indonesia, maka kekuatan yang harus dibangun untuk menjamin terciptanya stabilitas nasional haruslah tumbuh dan dikembangkan sedapat mungkin muncul dari kekuatan sendiri. Oleh karenanya diusahakan sedini mungkin agar tingkat ketergantungan terhadap negara lain dikurangi, bahkan bila perlu ditiadakan. Disamping itu membangun jaringan transportasi dan komunikasi adalah suatu keniscayaan. Dengan demikian akan meningkatkan posisi tawar di kancah pergaulan International.

Wahana yang menjadi pilar dan ujung tombak terobosan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun kekuatan nasional adalah industri strategis yang padat modal, padat inovasi dan bersifat integratif. Salah satu pilar yang dimaksud untuk membangun jembatan udara adalah industri pesawat terbang yang dapat menghubungkan beribu-ribu pulau dari Sabang sampai ke Merauke.

Bukan hanya sekedar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi-nya saja, namun lebih luas lagi adalah untuk meningkatkan citra bangsa di tengah-tengah perkembangan iptek dunia. Namun dalam lima tahun terakhir ini, justru komponen wahana startegis itu di porak porandakan.

Oleh sebab itu pemahaman yang menyesatkan tentang orientasi pada “hanya membeli tanpa bila menguasai sarana dan prasarana dari hasil IPTEK bangsa lain”, hanya akan menciptakan ketergantungan yang semakin jauh. Oleh sebab itu harus di tingkatkan menjadi kemampuan untuk membuat dan selanjutnya menjual hasil produk sendiri, untuk melepaskan ketergantungan terhadap bangsa lain, sehingga akan mendatangkan keuntungan ganda bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia, yaitu diantaranya meningkatkan posisi tawar dan menjadi mandiri atas kekuatan bagi pertahanan dan keamanan bangsa.

II. Modal Dasar

Dalam rangka upaya mensejajarkan diri dengan negara industri lainnya, Indonesia di tuntut untuk mengkoordinasikan modal dasar suatu kekuatan industri yang di milikinya menjadi suatu kekuatan yang saling bersinergi. Salah satu titik kekuatan industri adalah keandalan dalam bidang teknologi. Dimana penguasaan teknologi menjadi syarat mutlak yang harus diraih, selanjutnya mengembangkan keunggulan teknologinya untuk meningkatkan daya saing. Oleh sebab itu diperlukan suatu institusi yang bertindak sebagai ujung tombak dalam pemanfaatan teknologi tinggi untuk menghasilkan produk-produk bermutu bertaraf international, serta menjadi stimulant bagi berkembangnya industri di berbagai bidang.

Pelopor untuk meraih penguasaan teknologi ini pada posisi strategis berada di garis depan dalam hal teknologi dengan tujuan untuk mencapai kepentingan ekonomis maupun kepentingan strategis, yaitu kemandirian dalam bidang teknologi maupun pertahanan dan keamanan negara.

Teknologi maju yang di ramalkan akan sangat berpengaruh pada industri masa depan dan akan sangat berperan bagi kekuatan ekonomi suatu negara yang memilikinya, adalah teknologi dalam bidang ; kedirgantaraan, elektronika, energi dan biotek. Oleh sebab itu penguasaan teknologi nasional masa depan diarahkan kepada bidang-bidang tersebut.

Institusi yang menjadi agen penguasaan teknologi ini akan berada di garis depan dalam menciptakan produk-produk berdaya saing tinggi, sehingga pada kesempatan berikutnya akan menjadi pendorong bagi industri lainnya (termasuk swasta) untuk berpartisipasi aktif sebagai penunjang. Dengan demikian institusi ini termasuk kelompok industri strategis yang berperan dalam rangka merangsang pertumbuhan industri dalam negeri. Kelompok industri strategis ini haruslah mengemban misi penguasaan teknologi dalam rangka transformasi industri, dan memupuk keuntungan secara ekonomis sebagaimana suatu “business entity” perseroan.

Kelompok industri strategis ini terutama meliputi industri yang terkait dengan kepentingan wilayah kelautan, udara, darat, dan lingkungan hidup. Mengingat added cost yang dibutuhkan cukup tinggi, terutama untuk kepentingan riset dan pengembangan, maka pengelolaannya haruslah berada dalam koordinasi negara. Sehingga diharapkan nantinya dapat menciptakan value added yang setinggi-tingginya bagi negara dan bangsa.

Oleh sebab itu kelompok ini sedapat mungkin harus dibiayai dan dikelola oleh negara, meskipun hasilnya akan ditransfer kepada industri penunjang lainnya mulai dari industri hulu sampai ke industri hilir. Dimana pelaksana untuk mewujudkan hasil temuan dari riset itu bisa saja diserahkan kepada industri swasta nasional yang kapabilitasnya sudah teruji dan mampu menjadi partner.

Konsep pembangunan industri melalui transformasi industri dan proses alih teknologi dengan konsep empat tahapan yaitu ;- Penguasaan teknologi yang telah ada, – Pengintegrasian teknologi yang telah ada untuk menghasilkan produk baru, – Pengembangan teknologi dan penemuan teknologi baru , – Penelitian dasar untuk mengembangkan teknologi baru. Dimaksudkan untuk mencapai keunggulan kompetitif dalam ekonomi berbasis industri. Dengan demikian pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penyerapan teknologi yang tersedia di luar negeri harus dilakukan dengan baik dan cepat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk-produk unggul yang mampu bersaing di pasar international.

Industri strategis bukan hanya industri yang mempunyai arti penting dalam hal keamanan negara, melainkan juga industri yang menjadi tulang punggung pertumbuhan industri nasional. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu institusi yang mempunyai tugas pokok antara lain ;

= Membina secara teknis dan mengembangkan industri strategis agar teknologi, produktivitas dan efisiensi penyelenggaraannya dapat menunjang pembangunan nasional serta kemandirian pertahanan dan keamanan,

= Mengkoordinasikan pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan industri strategis itu secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna,

= Mengawasi penyelenggaraan dan pengelolaan industri strategis.

Pilar-pilar wahana industri yang harus menjadi penyanggah utama adalah ;

- Industri Kedirgantaraan ( terutama industri pesawat terbang) untuk membangun jembatan udara yang dapat mempercepat arus pergerakan kegiatan ekonomi dan lainnya, disamping untuk kepentingan kematraan udara dalam kekuatan militer dan industri lainnya,

- Industri elektronika ( telekomunikasi, eletronika perangkat lunak, dll),

- Industri energi ( pemesinan, pembangkit listrik, dll), – Industri biotek ( petrokimia, dll)

Berbagai pilar yang disebutkan diatas tentunya sebagian besar merupakan industri padat modal yang membutuhkan dukungan modal yang sangat besar dan diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang besar pula. Disamping itu akan menimbulkan “multiplay efect” yang sangat besar bagi perkembangan industri di Indonesia. Namun sayangnya justru dalam beberapa tahun terakhir ini dihancurkan peranannya oleh tokoh politik yang sangat berorientasi kebaratan, sehingga secara sistemik mereka hendak menjualnya dengan alasan untuk menanggulangi kebangkrutan bangsa. Padahal kita ketahui bersama bahwa pilar ekonomi bangsa ini hancur bukan hanya karena pilar strategis ini yang hancur, tetapi karena para konglomerat dan birokrasi/oknom, dan pemerintah yang sudah berkolusi begitu mesranya sehingga Negara ini menanggung akibatnya.

Aspek kemampuan sumber daya manusia sebagai bagian penting pembangunan bangsa yang sedemikian besarnya tak termanfaatkan dengan baik, dimana tenaga-tenaga terampil dan professional tak diberi tempat yang memadai dengan keahliannya sehingga banyak diantara mereka memilih pergi ke negara lain untuk pemberdayaan kemampuannya. Disamping itu banyak warga Negara yang menerima bea siswa, baik dari pemerintah maupun institusi lainnya untuk belajar diluar negeri, tidak mendapat perhatian yang cukup hingga mereka memilih survival di negeri orang (bekerja disana), artinya keahlian mereka dimanfaatkan oleh Negara lain. Modal dasar ini perlu dipertimbangkan lagi oleh pemerintah untuk membangun sarana dan prasarana bagi mereka yang berkemampuan lebih ini sehingga tidak menjadi pengangguran terselubung.

Mengapa kita hanya berfikir jangka pendek dengan menina bobokan rakyat miskin dengan memberi ikan, tapi bukan memberi kailnya ? mengapa pemerintah sibuk akan membagikan kenikmatan sesaat dan menebar penderitaan yang berkepanjangan ? (lihat BLT BBM, bantuan bencana alam yg dijanjikan namun tak kunjung terrealisasikan) mengapa teganya membuat pembodohan kepada rakyat yang sudah mau belajar dari kehidupan ini dengan bertindak bak sinterklas ?? mengapa potensi bangsa yang besar didukung oleh berbagai BUMNIS yang dimiliki itu tak dimanfaatkan secara optimal? Meskipun disana pula terdapat peluang untuk korupsi bagi siapa saja yang sudah masuk didalamnya.

III. INDUSTRI STRATEGIS DALAM PERSIMPANGAN

Mari tunjukkan kepada dunia internasional, bahwa bangsa ini sudah cukup mengalami penjajahan selama tiga setengah abad lebih, dan tidak akan membiarkan sejengkal tanahpun untuk diserahkan kepada Negara lain. Meskipun Negara tersebut mengaku sebagai saudara dekat sekalipun. Kesatuan Negara Republik Indonesia tak bisa di tawar menawar melalui diplomasi dengan cara apapun. Sekali merdeka tetap merdeka. Namun permasalahannya adalah kesadaran rakyat Indonesia tentang kancah persaingan antar bangsa (upaya penjajahan) tak sepenuhnya dipahami. Bahkan kini sudah terjadi gejala gerakan sekelompok orang yang mirip dengan pola-pola lama (kelompok orpol terlarang) yang bermanuver menggalang masa dan simpati masyarakat yang tak tahu menahu tentang kiprahnya masa lalu. Orpol yang pernah melakukan pembangkangan dengan kudeta yang gagal berkali-kali dan tak percaya adanya tuhan itu kini nampak menjalar di lingkungan kelompok religius/agamis. Bahkan pengkaderannya sudah mulai nampak dipermukaan untuk beraksi dan berkiprah diseluruh sendi kehidupan bangsa Indonesia. Bukan tidak mungkin kini mereka sudah berada di berbagai tempat strategis dan mulai berperan menyulut kebencian, kedengkian, kemunafikan dan lainnya agar bangsa ini secara sistematis berjalan di jalur mereka lalu suatu ketika meledak dengan manuver pengambil alihan pengaruh atau kudeta dan semacamnya.Waspadai mereka !!!

III. Kesimpulan

Bahwa industri kedirgantaraan merupakan salah satu agen dari ujung tombak industri yang mengemban misi alih penguasaan teknologi, dimana persaingan usaha dunia dewasa ini telah bergeser dari perolehan keunggulan komparatif mengarah pada keunggulan kompetitif, sehingga penguasaan teknologi haruslah menjadi titik kekuatan industri untuk dapat bersaing.

Dengan berkembangnya industri dalam kelompok strategis ini, maka akan dapat menjadi stimulan bagi industri-industri penunjang lainnya. Demikian pula halnya bagi industri kedirgantaraan, dimana penguasaan teknologi menjadi andalannya.

Industri kedirgantaraan menjadi ujung tombak pemersatu bangsa melalui penyediaan sarana dan prasarana jembatan udara dan keperluan pendukung lainnya.

Oleh sebab itu industri kedirgantaraan merupakan salah satu industri strategis yang menjadi tumpuan dan ujung tombak pembangunan nasional.

Apabila Indonesia mengabaikan sektor ini, maka tak lama lagi negara ini akan menjadi negara terjajah dalam bidang IPTEK, dalam artian akan menjadi pasar dan mungkin saja menjadi tempat penampungan hasil teknologi yang sudah kedaluarsa, karena negara ini hanya dapat menggunakan/memakai hasil teknologi orang lain bukan dapat membuat apalagi menjual produk sendiri yang dapat meningkatkan posisi tawar bangsa ini dalam kancah pergaulan negara-negara didunia.

Saat ini tergantung pada pengambil keputusan negara ini, apakah sektor ini akan diabaikan atau diperhatikan dengan berbagai konsekwensi logisnya sebagai suatu negara yang memiliki industri berteknologi tinggi seperti PT Dirgantara Indonesia ini. Tentunya bukan hanya turut memikirkan, namun yang lebih jauh lagi adalah ikut terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam memasarkan produk-produknya, mendukung permodalannya, bahkan memberikan pagar pengaman dari ancaman bahaya negara lain yang bermaksud untuk melumpuhkannya melalui kebijakan-kebijakan yang kondusif terhadap pergerakan perusahaan ini ditengah-tengah pasar regional maupun international.

(EDDY.B/CP)

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: